Pesawat Garuda Indonesia. MI/Amiruddin Abdullah.
Pesawat Garuda Indonesia. MI/Amiruddin Abdullah.

INACA Bantah Tuduhan Kartel YLKI

Ekonomi kartel
Nia Deviyana • 23 Januari 2019 15:46
Jakarta: Indonesia National Air Carrier Association (INACA) membantah tuduhan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) terkait dugaan praktik kartel alam penentuan tarif tiket pesawat terbang.
 
Menurut YLKI, pengendalian harga tidak boleh dilakukan oleh sekelompok perusahaan. INACA dianggap terang-terangan menyepakati perubahan pelayanan dalam pernyataan konferensi pers yang dilakukan di Jakarta, Minggu, 13 Januari 2019.
 
"Kami dari INACA memastikan tidak ada praktik kartel," ujar Ketua Umum INACA Ari Askhara kepada Medcom.id, Selasa, 23 Januari 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ari menambahkan pihaknya bahkan selalu mendukung Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dalam melakukan klarifikasi.
 
"Kami juga terbuka atas masukan-masukan yang diberikan KPPU," kata Ari, sembari menambahkan pihaknya telah melakukan pertemuan dengan KPPU sebanyak dua kali.
 
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sebelumnya juga meyakini bahwa tidak ada kartel dalam penentuan tarif pesawat. Namun, Budi memberikan restu jika KPPU ingin melakukan investigasi.
 
"Saya pikir silakan KPPU masuk, mereka berwenang untuk itu. Tapi kalau menurut saya, saya rasa tidak (ada kartel)," ujar Budi saat ditemui di kantornya, belum lama ini.
 
Sementara itu dugaan kartel terhadap INACA diutarakan Wakil Ketua Pengurus Harian YLKI Sudaryatmo.
 
"Serentak (dalam perubahan tarif tiket) itu yang menjadikan kecurigaan. Namanya persekongkolan kan tidak mungkin ada bukti tertulis, tapi dengan adanya INACA di dalam pressconference ini sebenernya bisa jadi petunjuk bahwa ada dugaan kartel," ungkapnya, belum lama ini.
 
Lebih lanjut, Sudaryatmo menuturkan struktur penentu tarif maskapai penerbangan mestinya tetap dihasilkan dari perhitungan biaya pokok dan margin. Persaingan maskapai, kata dia, seharusnya berbeda lantaran menonjolkan batas kemampuan pelayanan seperti misalnya dalam hal efisiensi.
 
"Ini indikasi kartel kuat di situ, mengapa naik bareng dan turun bareng, mestinya efisiensi masing-masing airlines itu beda sehingga airlines itu bisa buat tarif berbeda," bebernya.
 
Sedikitnya pemain besar di maskapai penerbangan nasional juga dinilai menjadi masalah lain yang saling berkaitan. Menurut Sudaryatmo, saat ini hanya terdapat dua perusahaan yakni Lion Air Group dan Garuda Indonesia yang menguasai sebagai besar rute penerbangan domestik.
 
"Sebenernya kebijakan tarif itu kelihatan operator banyak tapi tarif itu ditentukan oleh duopoli. Tidak ada kompetisi yang sehat di dalam penerbangan karena struktur pasarnya duopoli," pungkasnya.
 


 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif