IMF-World Bank 2018

LPEI Dorong Eksportir Tembus Pasar Global

Ade Hapsari Lestarini 10 Oktober 2018 23:58 WIB
indonesia eximbankIMF-World Bank
LPEI Dorong Eksportir Tembus Pasar Global
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara. (FOTO: dok Indonesia Eximbank).
Nusa Dua: Pemerintah melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)/Indonesia Eximbank mendorong pelaku usaha berorientasi ekspor memasuki era digital.

"Caranya dengan menciptakan strategi, memberikan dukungan, dan meningkatkan kesiapan mereka dalam memasuki e-commerce global," ujar Direktur Eksekutif Indonesia Eximbank Sinthya Roesly saat diskusi panel "The Perfect Time to Enhance Emerging Economies' Cooperation on Trade", dalam keterangan tertulisnya, di Nusa Dua, Bali, Rabu, 10 Oktober 2018.

Total penjualan tahunan berbasis e-commerce dari beberapa negara berkembang yang meliputi Brasil, India, Tiongkok, Meksiko, Rusia, Saudi Arabia, Afrika Selatan, Turki, termasuk Indonesia diperkirakan akan mencapai USD3,5 triliun di 2018.

Berdasarkan data statistik (Credit Suisse’s report), 50 persen dari populasi di negara berkembang memilih untuk berbelanja melalui platform online. Hal ini memberikan dampak bagi  perusahaan yang bergerak di bidang ritel, keuangan, dan teknologi.

Melihat peluang dan potensi tersebut, Indonesia Eximbank di 2018 menginisiasi suatu program untuk membantu para pelaku usaha berorientasi ekspor/eksportir, yaitu Digital Handholding Program (DHP).

"Yang dilakukan Indonesia Eximbank melalui DHP diharapkan dapat membantu pelaku UMKM berorientasi ekspor untuk meningkatkan daya saing produk unggulannya di pasar global melalui pendampingan, pemberian fasilitas, dan pelatihan yang diberikan secara berkesinambungan," tambah dia.

Sehingga pelaku UMKM ekspor Indonesia akan mampu memasarkan, memperluas akses pasar, serta mempromosikan produknya di pasar global.

Menteri Komunikasi dan Informatika Indonesia Rudiantara menyampaikan bahwa dalam konteks mempromosikan ekspor melalui e-commerce, dirinya telah melakukan diskusi dengan Jack Ma mengenai bagaimana Alibaba dapat membantu Indonesia dalam meningkatkan ekspor ke Tiongkok.

"Salah satu caranya adalah menjual lebih banyak produk Indonesia pada acara 'Single Days' yang diselenggarakan oleh Alibaba setiap tahun pada 11 November," ujar Rudi.

Dalam rangkaian kegiatan IMF/WBG Annual Meetings 2018, LPEI mengadakan diskusi panel ini bertujuan untuk mendapatkan pandangan dari panelis yang merupakan ahli di bidang terakit, seperti pemerintah, bank sentral, Eximbank, serta institusi keuangan.

"Ini dilakukan untuk mengeksplorasi beberapa poin terkait cara memperkuat daya saing UKM berorientasi ekspor dalam e-commerce global," tambahnya.

LPEI bergerak di bidang Pembiayaan, Penjaminan, Asuransi, dan Jasa Konsultasi dan bertugas untuk menyelenggarakan Program Ekspor Nasional. Prioritas pembiayaan LPEI adalah mempertahankan kemampuan industri padat karya, menumbuhkan multiplier effects ekonomi rakyat, dan mengembangkan chanelling produk Indonesia di pasar ekspor.

Kinerja LPEI per Agustus 2018 dapat dilihat dari pencapaian aset sebesar Rp117,27 triliun dan aspek pembiayaan ekspor mencapai Rp106,89 triliun atau tumbuh 9,7 persen (yoy), penjaminan Rp11,50 triliun tumbuh 29,8 persen, dan asuransi Rp12,37 triliun yang berarti tumbuh 16,4 persen.

Kerja sama Selatan-Selatan

Di sisi lain pentingnya Kerja Sama Selatan-Selatan ditandai dengan adanya ketegangan perdagangan dan ketidakstabilan pasar keuangan global. Pasar yang sedang berkembang mengalami perubahan yang signifikan seiring dengan berjalannya waktu sehingga Perdagangan Selatan-Selatan (perdagangan antar negara berkembang) menjadi sangat penting.

Pada dekade terakhir, terlihat peningkatan volume perdagangan internasional serta perjanjian perdagangan. Dengan ketidakpastian pertumbuhan risiko dari hal-hal tidak terduga terkait pasar keuangan global, perjanjian perdagangan menjadi hal yang penting. Adanya perjanjian perdagangan mempengaruhi penurunan tarif maupun non-tarif antar negara yang berpartisipasi dengan produk yang beragam.

Pembahasan inti dari diskusi panel sesi kedua adalah ketegangan perdagangan dan ketidakpastian dalam perang tarif serta dampak dan konsekuensinya terhadap pasar berkembang. Adanya peningkatan signifikan terhadap tarif impor, semakin menekan volume perdagangan internasional dan kinerja ekspor. Selain itu, tingginya ketergantungan terhadap mata uang dolar, akan membebani pembiayaan eksportir.

Adanya proteksi dalam perdagangan dapat mengurangi akses pasar ke negara-negara maju. Dengan begitu, persaingan yang terjadi di pasar ekspor akan semakin sengit karena para eksportir perlu melakukan pengalihan ekspor dari pasar Amerika.

Kondisi ini menunjukkan pentingnya Kerja Sama Selatan-Selatan, terutama untuk menciptakan respons serta strategi yang potensial untuk mengatasi situasi yang terjadi. Selaras dengan salah satu tujuan dari diselenggarakannya Kerja Sama Selatan-Selatan yaitu untuk membuka peluang serta penetrasi pasar. 

"Untuk melakukan penetrasi pasar, LPEI dukung pembiayaan ke negara-negara di kawasan Afrika dan ini sejalan dengan Penugasan Khusus yang diberikan Pemerintah melalui KMK Nomor 787/KMK.08/2017," tambah Direktur Pelaksana I LPEI Dwi Wahyudi.

Dengan diselenggarakannya diskusi panel ini diharapkan akan tercipta strategi serta solusi untuk menghadapi dan mengatasi isu-isu internasional khususnya yang berkaitan dengan perekonomian dan perdagangan global.

"Indonesia Eximbank selalu siap untuk memajukan perekonomian Indonesia di cakupan internasional dengan meningkatkan pelaku usaha berorientasi ekspor yang siap bersaing di pasar global," pungkasnya.



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id