NEWSTICKER
Perhiasan. Dok:AFP.
Perhiasan. Dok:AFP.

Industri Perhiasan Dipoles Lebih Kinclong

Ekonomi emas perhiasan
Ilham wibowo • 04 April 2019 16:43
Jakarta: Industri perhiasan menjadi salah satu sektor andalan dalam memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional. Nilai ekspor yang tinggi menjadikan perhiasan dalam negeri berdaya saing global dan memiliki nilai tambah tinggi.
 
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih mengatakan sektor industri padat karya berorientasi eskpor tengah dipacu untuk berkembang di era globalisasi dan pemanfaatan teknologi. Dorongan pemerintah juga diberikan tak terkecuali untuk sektor industri perhiasan.
 
Saat ini, Indonesia menempati peringkat ke-9 dunia sebagai eksportir perhiasan. Pangsa pasar produk yang diolah tangan terampil ini lebih dari 4 persen dam menyebar di kancah global.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Hal ini menjadikan peluang bagi industri perhiasan kita untuk terus memperbesar produktivitas dan memperluas pasarnya sejalan dengan perekonomian yang stabil dan perbaikan iklim usaha yang kondusif di Tanah Air,” ucap Hati pada pembukaan Jakarta International Jewellery Fair 2019 di Jakarta, Kamis, April 2019.
 
Nilai ekspor produk perhiasan Indonesia tercatat mencapai USD2,05 miliar sepanjang tahun 2018. Negara tujuan utama ekspornya, antara lain ke Singapura, Swiss, Hong Kong, Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab. Negara-negara tersebut mendominasi hingga 93,02 persen dari total ekspor produk perhiasan nasional.
 
Gati melanjutkan pihaknya bertekad untuk menjaga ketersediaan bahan baku yang dibutuhkan seperti emas serta batu permata seperti berlian, zamrud, dan ruby. Hal ini dilakukan agar keberlangsungan usaha di sektor industri perhiasan bisa berjalan terus.
 
“Misalnya, kami berupaya untuk menjaga agar bahan baku perhiasan tidak dikenakan bea masuk. Ini yang akan kami kawal terus,” ujarnya.
 
Penurunan tarif bea masuk produk perhiasan nasional telah diusulkan untuk di negara tujuan ekspor, seperti Uni Emirat Arab. Hal ini merupakan salah satu langkah untuk terus meningkatkan nilai tambah dan daya saing industri perhiasan kita dalam menghadapi persaingan global.
 
Pelaku industri kecil dan menengah (IKM) perhiasan nasional juga difasilitasi agar ikut terlibat dalam pameran-pameran yang berskala internasional. Dukungan ini seperti dilakukan pada ajang Jakarta International Jewellery Fair 2019 yang diselenggarakan oleh Asosiasi Perhiasan Emas dan Permata Indonesai (APEPI) pada tanggal 4-7 April 2019 di Jakarta Convention Center.
 
“Tahun ini, Direktorat Jenderal IKMA Kemenperin kembali berpartisipasi dengan memfasilitasi sebanyak 30 IKM perhiasan ikut memeriahkan pameran tersebut. Mereka di antaranya berasal dari Surabaya, Sidoarjo, Malang, Mataram, Yogyakarta, Bali, Kalimantan Selatan, Martapura, Demak, Bandung, Bogor, Banten, Aceh, Solo, Papua Barat, Bengkulu, dan Jakarta,” tutur Gati.
 
Ia optimistis, dengan gencarnya kegiatan promosi secara offline, penjualan dan ekspor akan terdongkrak naik. Penyelenggaraan pameran berperan penting pula dalam upaya pengembangan investasi industri dan perdagangan perhiasan.
 
"Kami yakin, penjualan pada pameran Jakarta International Jewellery Fair 2019 bisa naik 25 persen dibanding tahun lalu. Konsumen bisa mendapatkan produk perhiasan berkualitas dengan harga bersaing serta memperluas wawasan mereka tentang perhiasan yang diproduksi dengan teknologi terbaru, desain terkini, dan ciri khas etnik budaya yang tinggi,” ungkapnya.
 
Beberapa produsen perhiasan di Indonesia bahkan telah menerapkan teknologi industri 4.0. Capaian ini sesuai road map Making Indonesia 4.0 guna meningkatkan produktivitas dan kualitas secara lebih efisien.
 
“Contohnya, pelaku industri perhiasan di Surabaya dan Bandung, mereka mendesain dan memproduksi dengan teknologi canggih sehingga menghasilkan produk yang berdaya saing,” pungkasnya.
 

 

 

(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif