Tak Gentar Hadapi Bisnis Online, CT Corp Bangun 100 Transmart di 2017

Dian Ihsan Siregar 07 Desember 2017 16:47 WIB
mark plus
Tak Gentar Hadapi Bisnis <i>Online</i>, CT Corp Bangun 100 Transmart di 2017
Illustrasi. Dok; Perusahaan.
Jakarta: Banyak perusahaan gerai ritel yang menutup cabangnya tahun ini akibat daya beli masyarakat sedang melemah dan banyaknya masyarakat yang beralih membeli kebutuhan lewat e-commerce (transaksi online). Namun, grup ritel CT Corp tidak takut untuk menambah cabang berbasis offline di sepanjang tahun ini.

Toko offline diyakini masih memberikan dampak besar bagi tingkat penjualan perusahaan. Kalau pun ada toko online, hanya dilihat sebagai penyeimbang perusahaan offline.

"Bayangkan saja tahun ini, CT Corp investasikan 100 outlet Transmart. Kita berani offline, yang penting disukai pasar produknya, segmentasi kita menengah, semua kebutuhan masyarakat kita amankan," ujar AVP Digital Marketing Synergi Division CT Corp Firdza Radiany saat ditemui dalam acara 'The Markplus Conference 2018' di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, SCBD Sudirman, Jakarta, Kamis, 7 Desember 2017.


Firdza mengaku, banyaknya toko ritel offline yang tutup karena mereka tidak tahu segmentasi masyarakat. Akibatnya target penjualan mereka tidak terpenuhi, yang akhirnya berdampak kepada penutupan.

"Itu juga bagian riset kami, saya sampaikan dan tegaskan, kalau ritel offline masih akan hidup. Asal produknya sesuai segmen. Kenapa tutup banyak ritel. merega tidak buat sesuai segmented masing-masing," papar dia.

Seperti diketahui hingga akhir Oktober 2017 PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) telah menutup lima Department Store Lotus. Perseroan berencana akan menutup store Debenhams di akhir tahun ini.

Firdza mengatakan kunci kesuksesan penjualan ada di tangan para marketing. Namun, kebanyakan mereka banyak yang gagal dan tidak bisa meraih target apa yang telah ditetapkan perusahaan.

"Sebanyak 55 persen marketer di Indonesia menggunakan digital marketing. Tapi, mereka juga belum menghasilkan penjualan yang cukup baik. Itu yang ada saat ini. Belum tentu migrasi ke online itu berhasil. Maka kami optimistis, kalau offline masih bagus," tegas Firdza.

Direktur Sitem Pembayaran Bank Indonesia (BI) Eny Pangabean sebelumnya mengungkapkan kontribusi e-commerce hanya 2,4 persen di 2017 dari total penjualan ritel di Indonesia.

"Penjualan online belum jadi disrupsi ritel, meski penjualannya meningkat, porsinya masih 1,6 persen di 2016, dan hanya menyumbang 0,59 persen terhadap PDB sementara pada 2017 baru sekitar 2,4 persen dengan sumbangan 0,69 persen terhadap PDB," tutur Eny.

Secara nominal, Eny menyatakan, penjualan e-commerce senilai USD5,65 juta di 2016, dan meningkat 23 persen senilai USD6,96 juta di 2017. Meski kecil, pertumbuhan penjualan e-commerce memang akan terus meningkat hingga 2020.



(SAW)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360