Menurut Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara, suku bunga perbankan sulit turun karena terkendala biaya operasional yang tinggi jika dibandingkan negara regional lainnya.
"Kalau di Indonesia karena mereka punya operating expend, operating cost, biaya operasi lebih tinggi dibandingkan negara-negara regional," katanya di Kompleks Bank Indonesia, Jakarta, Jumat 20 Oktober 2017.
Mirza mencontohkan, biaya operasi aset perbankan di Indonesia mencapai 3,5 persen atau 150 basis poin. Sementara negara di kawasan ASEAN lainnya hanya menghabiskan satu hingga dua persen untuk biaya operasional. Artinya biaya yang dihabiskan perbankan Indonesia cukup mahal.
"Tapi yang harus bisa diturunkan itu biaya operasi. Jadi jangan cost of fund sudah turun, lending rate tidak turun cepat karena biaya operasi tidak bisa turun. Jadi harusnya biaya operasinya bisa diturunkan pakai teknologi dan sebagainya," tutur dia.
Sebab itu, bank sentral meminta perbankan menyiapkan strategi khusus agar biaya operasional bisa ditekan dan suku bunga kredit dapat turun lebih cepat.
"Nah perbankan di Indonesia ini dalam rangka mencapai aset dan equity-nya yang mereka harus bisa kendalikan itu adalah biaya operasi. Jadi kalau memang suku bunga dana (deposito) sudah turun, suku bunga kreditnya logisnya kalau negara lain turunnya cepat," pungkas dia.
Adapun pertumbuhan kredit Agustus 2017 masih rendah yaitu tercatat 8,3 persen (yoy), meskipun membaik dari bulan sebelumnya 8,2 persen (yoy). Begitu pula pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Agustus 2017 tercatat 9,6 persen (yoy), menurun dibandingkan dengan bulan sebelumnya 9,7 persen (yoy), terutama pada DPK valas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News