"Namun, tidak ada lonjakan konsumsi pada solar bersubsidi, yaitu sekitar 45-46 ribu KL per hari," kata Hanung disela-sela kunjungan ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tanjung Pasir, Tangerang, Selasa (11/11/2014).
Hanung mengatakan bahwa titik aman premium mencapai 16 hari dan solar 18 hari. Dengan demikian kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi diperkirakan akan habis pada awal Desember yang mulanya akan tetap aman hingga akhir tahun.
Untuk mencegah defisit kuota BBM bersubsidi, lanjut Hanung, pertamina telah menambah impor untuk Pertamax sebesar 600 ribu barel dan diprediksi konsumsi Pertamax akan meningkat empat kali lipat setelah pemerintah menaikan harga BBM bersubsidi.
Selain itu, Hanung berharap kenaikan harga BBM bersubsidi nanti akan berdampak pada menurunnya konsumsi BBM oleh masyarakat.
“Kenaikan BBM banyak manfaatnya karena beban subsidi negara untuk energi menjadi berkurang dan bisa digunakan untuk hal yang produktif. Selain itu, masyarakat menjadi lebih bijak dalam mengkonsumsi BBM,” ujar Hanung.
Pertamina akan tetap siaga dalam hal penyediaan stok BBM bersubsidi. Dalam hal tersebut, Pertamina telah bekerjasama dengan aparat keamanan untuk mengamankan SPBU agar tidak terjadi antrian panjang dan keributan.
“Pembelian tidak wajar saya minta untuk ditindak. SPBU juga akan ditindak dengan skorsing minimal 2 bulan. Jika dilakukan berkelanjutan (oleh SPBU), makan akan dilakukan PHU," pungkasnya. (Gabriela Jessica Restiana Sihite)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News