Anggota Komisi IV Firman Subagyo -- Foto: Foto Terbit Mohamad Irfan
Anggota Komisi IV Firman Subagyo -- Foto: Foto Terbit Mohamad Irfan

Faktor Penyebab Kelangkaan Gula

Anggi Tondi Martaon • 14 Juni 2016 12:04
medcom.id, Jakarta: Memasuki pekan kedua Ramadan, di sejumlah pasar terjadi kelangkaan gula. Selain dipicu tingginya konsumsi gula oleh masyarakat, ada beberapa faktor penyebab gula langka.
 
Anggota Komisi IV Firman Subagyo menilai, kelangkaan gula disebabkan ketidakmampuan petani gula dalam memenuhi tingginya kebutuhan pasar. Menurutnya, produksi petani tebu Indonesia masih terbatas.‎

"Oleh karena itu, pemerintah harus mulai menginventarisasi persoalan pergulaan nasional itu di mana. Tidak bisa sesuatu harus diselesaikan instan," kata Firman, di Gedung DPR RI Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (14/6/2016).
 
Politikus Golkar ini menilai, keterbatasan produksi gula Indonesia disebabkan minimnya lahan tebu. Disayangkan, pemerintah tidak pernah mengevaluasi hal tesebut.

Bahkan, tak jarang saat ini banyak lahan pertanian diubah peruntukannya oleh pihak pengembang. Salah satunya, menjadi lahan perumahan dan mal.
 
"Karena banyak lahan pertanian yang sudah dikonversi untuk area industri perumahan, termasuk mal. Maka saya kira harus ada evaluasi. Kalau sudah dievaluasi, ada juga evaluasi tentang kesuburan tebu itu sendiri‎," ungkapnya.
 
Terkait tingkat kesuburan lahan, Firman melihat kualitas tebu saat ini berbeda dengan 20-30 tahun yang lalu. Menurutnya, kualitas tebu saat ini tidak sebagus dulu.

"Kalau dulu tebu gede-gede, sekarang kecil karena memang pembibitannya lebem. Karena setiap tanah 3 persen berpengaruh terhadap produksi," ucapnya.
 
Tidak hanya itu, timpangnya luas lahan dan kualitas tebu tidak sebanding dengan perkembangan pabrik gula di Indonesia yang terus bertambah. Hal itu juga menjadi salah satu persoalan tersendiri untuk menyelesaikan persoalan produksi gula.
 
Menurutnya, perkembangan jumlah pabrik gula harus diikuti dengan penambahan areal pertanian tebu. Sehingga, produksi gula yang dihasilkan bisa bertambah dan memenuhi kebutuhan pasar.‎
 
‎"Karena produksi untuk satu pabrik jadi dibagi-bagi, akhirnya impor lagi. Mata rantainya harus dibedah, kemudian persoalan dievaluasi. Nah, ini enggak nampak," sebut dia.‎
 
Permasalahan ini selalu menjadi alasan klasik pemerintah untuk menerapkan kebijakan impor gula. Firman menekankan, permasalahan ini tidak pernah dievaluasi oleh pemerintah. 
 
"Bukan wajar, enggak wajar. Kesalahannya pemerintah enggak pernah evaluasi terutama impor gula. Alibinya dukung sektor industri. Nah, sektor industri dalih impor. Karena memang posisi grey area. Jadi, selalu klasik," ujar Firman.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ROS)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan