Ilustrasi pembeli di sebuah kedai kopi. Foto: dok MI/Ferdian.
Ilustrasi pembeli di sebuah kedai kopi. Foto: dok MI/Ferdian.

Kedai Kopi Menjamur Diharap Serap Petani Lokal

Ekonomi kopi
Ilham wibowo • 01 Januari 2020 09:27
Jakarta: Maraknya kemunculan kedai kopi berbagai merek di Tanah Air diharapkan terus tumbuh untuk mendukung produksi dan serapan kopi garapan petani lokal. Investasi yang muncul di sektor ini diyakini akan terus tumbuh mengingat kualitas kopi Indonesia yang telah diakui di mancanegara.
 
Ketua Umum Dewan Kopi Indonesia Anton Apriantono mengatakan tingkat konsumsi kopi jenis arabika dan robusta di dalam negeri cenderung meningkat dengan pertumbuhan sekitar delapan persen setiap tahun seiring berkembangnya bisnis kopi tersebut. Angka pertumbuhan bisa lebih tinggi apalagi ditambah dengan munculnya investasi dengan nilai yang fantastis untuk sebuah kedai kopi di 2020.
 
"Investasi besar di kedai kopi bagus sekali, harapan kami Dewan Kopi Indonesia konsumsi dalam negeri terus naik," kata Anton kepada Medcom.id, Rabu, 1 Januari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dari data sebuah survei, nilai pasar bisnis kedai kopi mencapai Rp4,8 triliun per tahun dengan perkiraan konsumsi domestik 2020 sebesar 13,9 persen. Sementara itu, enam dari 10 orang menyukai kopi susu kekinian dan 39 persen konsumen membeli kopi di coffee to-go shop.
 
Menurut Anton data tersebut cukup menarik lantaran bisa terus mendorong stabilitas harga kopi Indonesia di tingkat petani. Keuntungan yang didapat para petani pun mestinya bisa merata saat dihadapkan dengan harga kopi global yang tengah dilanda penurunan nilai sebagai dampak dari berlimpahnya produksi.
 
"Petani belum happy dengan harga yang ada karena tata niaga yang belum baik dan kadang masih panjang walaupun harga di tingkat konsumen sudah bagus," tutur mantan Menteri Pertanian dalam Kabinet Indonesia Bersatu ini.
 
Kehadiran investasi di kedai kopi pun diharapkan bisa memutus mata rantai distribusi dengan langsung mengelola kopi dari hasil panen petani. Sehingga, harga kopi Indonesia tak bergantung pada fluktuasi perdagangan dunia.
 
"Kami harapkan pemerintah bisa mendorong program yang terintegrasi secara menyeluruh, misalnya tidak cukup hanya bibit tapi lengkap mulai teknik budidaya hingga pendampingan pasca panen," paparnya.
 
Pertumbuhan bisnis kedai kopi di Indonesia diperkirakan bakal terjadi lebih signifikan di 2020. Hal ini terlihat dari meningkatnya jumlah kedai kopi di Indonesia secara signifikan dalam tiga tahun terakhir dan naiknya konsumsi domestik kopi di Tanah Air.
 
Hasil riset TOFFIN menunjukkan jumlah kedai kopi di Indonesia pada Agustus 2019 mencapai lebih dari 2950 gerai, meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan pada 2016 yang hanya sekitar 1000. Angka riil jumlah kedai kopi ini bisa lebih besar karena sensus kedai kopi itu hanya mencakup gerai-gerai berjaringan di kota-kota besar dan tidak termasuk kedai-kedai kopi independen yang modern maupun tradisional di berbagai daerah.
 
Konsumsi kopi domestik Indonesia juga terus meningkat. Data tahunan konsumsi kopi Indonesia 2019 yang dikeluarkan oleh Global Agricultural Information Network menunjukkan proyeksi konsumsi domestik (Coffee Domestic Consumption) pada 2019/2020 mencapai 294 ribu ton. Angka itu meningkat sekitar 13.9 persen dibandingkan konsumsi pada 2018/2019 yang mencapai 258 ribu ton.
 
Secara per kapita, konsumsi kopi masyarakat Indonesia relatif masih rendah dibandingkan negara lain, yaitu hanya sekitar satu kilogram pada 2018. Vietnam misalnya, konsumsi kopi per kapitanya mencapai 1.5 kilogram pada tahun yang sama.
 
Dari sisi bisnis, penjualan produk Ready to Drink (RTD) Coffee atau kopi siap minum seperti produk kopi yang dijual di kedai kopi juga terus meningkat. Menurut data Euromonitor, yang pada 2013 retail sales volume RTD Coffee Indonesia hanya sekitar 50 juta liter, pada 2018 menjadi hampir 120 juta liter.
 
"Riset ini memberikan rekomendasi serta referensi yang relevan dan akurat bagi para pebisnis kedai kopi," tutur Vice President Sales and Marketing TOFFIN Indonesia Nicky Kusuma.
 
Riset tentang perkembangan bisnis kedai kopi di Indonesia ini dilakukan dengan survei dari para pemangku kepentingan di industri kedai kopi. Faktor yang mendorong pertumbuhan bisnis kedai kopi di Indonesia yang masih menempati urutan teratas yakni kebiasaan nongkrong sambil ngopi selain margin bisnis kedai kopi relatif cukup tinggi.
 
"Kemudian faktor meningkatnya daya beli konsumen, tumbuhnya kelas menengah, dan harga RTD Coffee di kedai modern yang lebih terjangkau serta dominasi populasi anak muda Indonesia yang menciptakan gaya hidup baru dalam mengonsumsi kopi," paparnya.
 
Kehadiran media sosial yang memudahkan pebisnis kedai kopi melakukan aktivitas marketing dan promosi juga jadi pendorong bisnis ini. Tak kalah penting kehadiran platform ride hailing (Grabfood dan Gofood) yang memudahkan proses penjualan serta ketersediaan pasokan bahan baku, peralatan, dan sumber daya untuk membangun bisnis kedai kopi.
 
Dengan jumlah gerai yang terdata saat ini dan asumsi penjualan rata-rata per outlet 200 cup per hari, serta harga kopi per cup Rp22.500, diperkirakan nilai pasar kedai kopi di Indonesia mencapai Rp4,8 triliun per tahun. Proyeksi pertumbuhan pada 2020 ini juga berdasarkan masukan dari konsumen yang dikumpulkan melalui survei online kepada kalangan muda penggemar kopi di Indonesia.
 
Hasil survei tersebut antara lain menunjukkan bahwa kedai Coffee to Go yang menyediakan RTD Coffee berkualitas dengan harga terjangkau sangat diminati generasi yang mendominasi populasi Indonesia saat ini. Dalam setahun terakhir, 40 persen generasi ini membeli minuman kopinya dari gerai kopi jenis ini.
 
Dengan rata-rata alokasi belanja untuk minuman kopi Rp200 ribu per bulan, bisnis kedai kopi jenis ini diperkirakan juga akan tumbuh signifikan pada tahun-tahun mendatang.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif