Garuda Indonesia. Foto: MI/Angga Yuniar
Garuda Indonesia. Foto: MI/Angga Yuniar

Rhenald Kasali Sebut BUMN Bukan Lagi Lazy Company

Ekonomi bumn holding bumn
16 April 2019 23:36
Jakarta: Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dinilai sudah mampu memberikan kontribusi ekonomi. Ada banyak fakta BUMN mulai bergerak, tidak lagi menjadi lazy company. BUMN pun mulai berkontribusi besar terhadap perekonomian.
 
Pandangan demikian disampaikan Guru Besar Universitas Indonesia Rhenald Kasali menyikapi tudingan bahwa BUMN tidak memberikan kontribusi dan salah kelola. "BUMN turut berjuang untuk membuka daerah-daerah terpencil," kata Rhenald melalui keterangan tertulis, Selasa, 16 April 2019.
 
Ia mencontohkan Angkasa Pura II yang turut mengelola Bandara Silangit. Kemudian Bandara Banyuwangi yang kini telah diperbesar. "Pekerjaan yang kira-kira swasta tidak berani masuk dan pemerintah daerah juga ingin melepas, kini ditangani oleh BUMN."
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Saat ini, tambah dia, BUMN tengah mengembangkan bandara di Purbalingga. "Bayangkan bertahun-tahun ekonomi sudah berkembang di sana, namun masih kurang perhatian untuk pembangunan bandara di wilayah itu. Jalan tol dibangun juga karena pihak swasta tidak ada yang berminat untuk itu, maka di situlah BUMN masuk,” jelasnya.
 
Ia menjelaskan BUMN juga turut mengaktifkan langkah-langkah mengharumkan nama bangsa, terutama untuk menjalankan amanah Pasal 33 UUD 1945, yaitu mengambil alih dari asing.
 
"Freeport sudah masuk, Blok Mahakam, dan Blok Rokan juga sudah masuk. BUMN telah menjalankan peran ini dengan baik," kata dia.
 
Terkait pandangan miring atas holding BUMN, ia malah melihat holding dapat membantu kelengkapan dan membuat lebih besar. Holding BUMN juga disebut memberikan kemampuan untuk melakukan financial laveraging.
 
Ia mencontohkan holding yang dilakukan Singapura. Bila Singapore Airlines masuk ke seluruh negara, tidak hanya Singapore Airlines yang akan masuk, tetapi juga bandaranya. Makanya, kata Rhenald, bandara Singapura bisa mengelola bandara lain di dunia.
 
“Dengan holding mereka bisa menjamin, 'kalau saya mengelola airport di negara Anda, saya akan bawa kargo, saya akan bawa penumpang.' Bisa seperti itu,” ujarnya.
 
Ia yakin Indonesia pun bisa. Dengan catatan, mainnya tidak sendiri-sendiri, tidak saling menginjak. "Harus bersinergi. Dengan begitu menjadi kuat, besar, dan kita tidak ditertawakan lagi oleh negara tetangga. Airlines kalau hanya mengandalkan passenger sampai kapan pun tidak akan untung,” kata Rhenald.
 

(UWA)
MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:25
  • SUBUH04:35
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA18:59

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif