Kian Kinclong, Industri Kecantikan "Bersolek Diri"

Ade Hapsari Lestarini 30 Juni 2018 22:11 WIB
kecantikanZAP Clinic
Kian Kinclong, Industri Kecantikan
Ilustrasi industri kosmetik. (FOTO: ANTARA/Yusran)
"Don't make it unpractical to be beauty," tutur Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat hadir dalam salah satu pameran kecantikan di Asia Tenggara beberapa waktu lalu.

Rasanya ungkapan itu ada benarnya. Siapa sih wanita yang tak ingin terlihat cantik. Tapi justru suatu kecantikan tidak bisa dilihat dari fisik saja, kecantikan hati pun menjadi salah satu faktor lainnya.

Beberapa tahun belakangan, banyak influencer kecantikan berlomba-lomba memberi tutorial tentang bagaimana memakai make up, hingga merawat wajah secara alami. Maraknya hal ini di media sosial turut menjadi ceruk pasar tersendiri bagi industri kecantikan.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat pertumbuhan industri kosmetik nasional mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi, yakni mencapai lebih dari 20 persen, pada tahun lalu. Permintaan besar dari pasar domestik dan ekspor seiring tren masyarakat yang mulai memperhatikan produk perawatan tubuh sebagai kebutuhan utama, menjadi salah satu pemicunya.

"Pertumbuhannya sampai dua digit atau empat kali lipat dari pertumbuhan ekonomi nasional. Kemenperin telah menempatkan industri kosmetik sebagai sektor andalan sebagaimana tertuang dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, beberapa waktu lalu.

Menurut dia, industri kosmetik di dalam negeri bertambah sebanyak 153 perusahaan pada 2017, sehingga saat ini jumlahnya mencapai lebih dari 760 perusahaan. Dari total tersebut, sebanyak 95 persen industri kosmetik nasional merupakan sektor industri kecil dan menengah (IKM) dan sisanya industri skala besar.

"Dari industri yang skala menengah dan besar, beberapa dari mereka sudah mampu mengekspor produknya ke luar negeri seperti ke ASEAN, Afrika, Timur Tengah, dan lain-lain," tuturnya.

CEO ZAP Clinic Fadly Sahab pun melihat peluang ini. Melihat ceruk pasar yang besar, klinik kecantikannya yang telah memiliki lebih dari 20 cabang di seluruh Indonesia itu berencana melebarkan sayap ke Korea Selatan pada 2020.

"Kami berencana buka cabang seperti di Malaysia, Singapura, Australia, hingga Eropa. Namun, target utama adalah Korea Selatan karena negara tersebut adalah kiblat kecantikan," tukas Fadly Sahab saat temu media, Kamis, 22 Februari 2018 lalu.

Dia memilih Negeri Ginseng sebagai ekspansi usahanya lantaran merasa tertantang dengan pasar yang akan dihadapinya kelak. Namun demikian, dia menyadari banyaknya tantangan untuk mencoba bertahan di Korea Selatan.

"Kalau ternyata kami mampu bertahan, kelak jika ingin membuka cabang di negara lain, misalnya Malaysia, tentu tak akan sesusah ini," ujar Fadly.

Berangkat dari sini, Fadly pun ingin mengetahui apakah produknya mampu bersaing dengan produk lokal di Korea Selatan. Selain itu, ia juga merasa ini adalah salah satu strategi untuk membuat nama ZAP lebih dikenal di Indonesia.

"Pasti jadi omongan di sini (Indonesia) kalau membuka cabang di Korea Selatan," tambah Fadly.

Dia menuturkan pada 2017, ZAP Clinic telah mengalami pertumbuhan sebanyak 71 persen dengan 900 ribu perawatan, di mana angka sebut meningkat hingga dua kali lipat dari tahun sebelumnya.

Pada 2017, nilai ekspor produk kosmetik nasional mencapai USD516,99 juta, naik dibandingkan 2016 sebesar USD470,30 juta. Indonesia merupakan salah satu pasar kosmetik yang cukup besar sehingga bisnis ini akan prospektif dan menjanjikan bagi produsen yang ingin mengembangkannya di dalam negeri. Potensi pasar domestik ini, antara lain meningkatnya jumlah populasi penduduk usia muda atau generasi milenial.

"Saat ini, produk kosmetik sudah menjadi kebutuhan primer bagi kaum wanita yang merupakan target utama dari industri kosmetik. Selain itu, seiring dengan perkembangan zaman, industri kosmetik juga mulai berinovasi pada produk kosmetik untuk pria dan anak-anak,"papar Airlangga.

Potensi lainnya adalah tren masyarakat untuk menggunakan produk alami (back to nature) sehingga membuka peluang munculnya produk kosmetik berbahan alami seperti produk-produk spa yang berasal dari Bali.

Berinovasi

Airlangga pun mengimbau industri kosmetik nasional agar aktif melakukan sinergi dalam kegiatan penelitian dan pengembangan (RnD) dengan lembaga riset dan perguruan tinggi. Hal ini bertujuan guna menciptakan inovasi produk sesuai kebutuhan pasar saat ini.

"Industri kosmetik tidak bisa terpisahkan dengan sektor kreatif atau lifestyle, dan melibatkan keterkaitan antara IKM dengan industri besar. Jadi, keberhasilan industri kosmetik ini perlu langkah kolaborasi yang kuat antara manufacturing dengan kreativitas," papar Menperin.

Di samping itu, perlu kegiatan promosi yang masif terhadap produk kosmetik lokal sehingga bisa semakin dikenal di pasar internasional. "Generasi milenial kita juga menjadi kunci penting dalam inovasi pemasaran ini, yaitu lewat media sosial mereka karena lebih efektif dan less costly. Bahkan, di Korea, mereka konsisten memberikan paket kosmetik sebagai souvenir," jelasnya.





(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id