NEWSTICKER
Ilustrasi. FOTO: Medcom.id
Ilustrasi. FOTO: Medcom.id

Pelaku Jasa Keuangan Harus Optimalkan Generasi Milenial

Ekonomi industri keuangan
Angga Bratadharma • 06 Desember 2019 07:22
Jakarta: Populasi Indonesia didominasi oleh kelompok usia milenial atau generasi Y pada saat ini. Penduduk tersebut akan menjadi kelompok usia produktif pada 2020 dengan rentang usia 20 tahun hingga 40 tahun. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) di 2017 jumlah populasi milenial mencapai 88 juta jiwa atau 33,75 persen dari total populasi Indonesia.
 
"Generasi milenial menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia saat ini dan beberapa tahun ke depan mengingat jumlahnya yang besar dan kelompok usia produktif," sebut Research of Director Alexander Mulya, seperti dikutip dari keterangan tertulisnya, dalam Financial Award 2019, di Jakara, Jumat, 6 Desember 2019.
 
Dalam konteks ini, Iconomics Research bekerja sama dengan RRI melakuakan riset survei persepsi milenial Indonesia terhadap industri jasa keuangan Indonesia yaitu perbankan, perusahaan asuransi, perusahaan pembiayaan (multifinance), perusahaan sekuritas, dan fintech. Riset ini melibatkan 10.000 responden di 10 kota besar di Indonesia pada Oktober 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Riset ini merupakan riset brand equity dengan menggunakan lima atribut dasar," kata Alexander.
 
Adapun kelima atribut dasar itu pertama, brand usage yakni banyaknya milenial yang menggunakan produk dan jasa sebuah perusahaan. Kedua, brand awareness yaitu tingkat pengetahuan milenial atas nama brand perusahaan. Ketiga, brand image. Apresiasi milenial terhadap citra perusahaan. Keempat, customer service quality.
 
"Kelima, social economy contribution. Persepsi seberapa jauh milenial menilai bahwa perusahaan memiliki kontribusi sosial ekonomi yang tinggi," ucapnya.
 
Ada beberapa temuan menarik dari riset ini, tambah Alexander, di antaranya penetrasi jasa keuangan -yang dilihat dari brand usage perusahaan jasa keuangan di kalangan milenial Indonesia- masih relatif kecil yaitu 13,04 persen.
 
Alexander menilai hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah bagi para pelaku industri jasa keuangan di Indonesia untuk terus meningkatkan penetrasinya di kalangan milenial. Apalagi mengingat mereka adalah kelompok usia produktif dan berjumlah lebih dari sepertiga populasi Indonesia.
 
Meski penetrasi masih relatif rendah, masih kata Alexander, tetapi pengetahuan kelompok milenial, yang dilihat dari brand awareness, atas perusahaan jasa keuangan relatif tinggi yaitu rata-rata 41,32 persen. Generasi milenial juga cenderung memberikan penilaian yang relatif baik terhadap brand-brand perusahaan jasa keuangan di Indonesia.
 
"Brand awareness yang relatif tinggi dan penilaian yang relatif baik terhadap brand-brand jasa keuangan, merupakan modal yang baik untuk memudahkan perusahaan-perusahaan jasa keuangan meningkatkan penetrasi. Tinggal langkah selanjutnya adalah aksi untuk menggunakan produk-produk jasa keuangan tersebut," pungkasnya.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif