Aktivitas di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. (FOTO: Medcom.id/Budi Arista)
Aktivitas di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. (FOTO: Medcom.id/Budi Arista)

Pelindo III Bangun Fasilitas Shore Connection di Pelabuhan Tanjung Emas

Ekonomi pelabuhan pelindo
Husen Miftahudin • 20 Juni 2019 23:48
Jakarta: PT Pelindo III melakukan penghematan energi dengan memasang jaringan listrik dari darat (shore connection) untuk kapal yang bersandar di pelabuhan. Fasilitas shore connection menggantikan sumber energi kapal yang sebelumnya menggunakan bahan bakar minyak menjadi sumber energi listrik.
 
Direktur Utama Pelindo lll Doso Agung mengatakan fasilitas shore connection dengan daya listrik satu megawatt telah tersedia di Terminal Dwimatama, wilayah Pelabuhan Tanjung Emas yang dioperasikan anak perusahan, PT Lamong Energi Indonesia. Perusahan ini bergerak di bidang energi dan penyedia jasa pelayanan shore connection.
 
"Di Tanjung Emas ini shore connection saat ini baru untuk melayani PT Pupuk Indonesia Logistic (PILOG) non petikemas. Sebelumnya Pelindo III telah melakukan uji coba shore connection di Tanjung Perak untuk kapal peti kemas," ujar Doso dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Kamis, 20 Juni 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pelayanan curah kering di Terminal Dwimatama Pelabuhan Tanjung Emas dilengkapi fasilitas conveyor berukuran 1,2x25 meter dan berkapasitas 200 ton per jam.
 
Doso menerangkan selama ini kapal yang bersandar di pelabuhan mesinnya harus tetap menyala untuk memenuhi kebutuhan listrik. Dengan shore connection yang disiapkan di dermaga, mesin kapal tidak perlu dihidupkan, namun diganti dengan daya listrik yang bisa langsung dicolok.
 
Dengan demikian, perusahaan pelayaran akan menghemat biaya sekitar 30-40 persen, ramah lingkungan, serta mempercepat kegiatan bongkar muat yang semula 4-5 hari menjadi 3-4 hari. Hal ini karena listrik yang disediakan dapat mengoperasikan ship crane secara maksimal.
 
Selain itu, lanjutnya, penggunaan shore connection membuat produksi bongkar muat curah kering meningkat dari 1.800-2.000 ton per hari menjadi 2.300-2.500 ton per hari. Peningkatan terjadi lantaran energi listrik memudahkan penggunaan ship crane secara maksimal dan efisien.
 
"Semula kapal dengan kapasitas 7.500 GT hanya dapat menggunakan satu ship crane karena solar mahal, tetapi dengan shore connection kapal dapat menggunakan dua ship crane dengan biaya lebih efisien dan menekan biaya logistik serta mampu meningkatkan daya saing produk nasional," ungkapnya.
 
Setelah ini, sambung Doso, fasilitas tersebut juga akan dikembangkan di Pelabuhan Benoa untuk kapal Yacht dan di Terminal Teluk Lamong untuk kapal peti kemas. Kemudian juga akan dibangun di Terminal Nilam Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dan Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin.
 
Doso mengungkapkan, ada lima program Pelindo III dalam rangka menurunkan biaya logistik nasional guna meningkatkan daya saing produk nasional. "Pertama shore connection, kedua windows connectivity antarpelabuhan di wilayah Pelindo III dengan Pelindo lainnya, ketiga transhipment domestik, penurunan biaya pandu di beberapa pelabuhan, dan kelima penerapan IBS-integrated billing system," jelas Doso.
 
Staf Khusus Bidang II Menteri BUMN, Bambang Eka Cahyana mengapresiasi kinerja Pelindo III karena telah mempelopori shore connection. Pelayanan ini merupakan yang pertama dilakukan operator kepelabuhan.
 
"Konsep ini patut dicontoh dan harus diterapkan ke semua pelabuhan di Indonesia. Sebab inisiatif strategis ini dapat menurunkan biaya logistik dan meningkatkan daya saing," tutur dia.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif