Ilustrasi Amazon. Foto: AFP.
Ilustrasi Amazon. Foto: AFP.

Amazon Bangun Tiga Pusat Data di Indonesia

Ekonomi kementerian perdagangan amazon
Ilham wibowo • 27 Januari 2020 18:13
Jakarta: Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto mengungkapkan Amazon Web Service (AWS) berencana membangun infrastruktur berupa tiga pusat data di Indonesia pada akhir 2021 atau awal 2022.
 
Hal tersebut terungkap dalam pertemuan Mendag Agus dengan Vice President Global Public Policy AWS Michael Punke di sela-sela penyelenggaraan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss.
 
Pembangunan infrastruktur tersebut merupakan realisasi investasi Amazon di Indonesia pada 2019 tercatat senilai USD2,5 miliar. Rencana tersebut, disambut baik Mendag Agus.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kemendag memberikan dukungannya atas langkah Amazon dalam membuka dan membangun bisnisnya di Indonesia dengan harapan dapat mendorong kinerja perdagangan Indonesia di tingkat global.
 
"Rencananya, pembangunan tiga pusat data di Indonesia diproyeksikan akan selesai pada 2022. Pembangunan pusat data ini juga akan bermanfaat bagi pengembangan bisnis dan industri nasional karena dapat meningkatkan efisiensi bagi para pelaku bisnis dan mendorong pengembangan sumber daya manusia," ujar Agus Suparmanto melalui keterangan tertulisnya, Senin, 27 Januari 2020.
 
Mendag mengatakan Indonesia memiliki beberapa peluang dan tantangan di bidang niaga elektronik yang harus diantisipasi. Berbagai peluang dapat dilihat dari pertumbuhan pengguna baru internet di Indonesia yang merupakan tercepat di dunia.
 
Jumlah pengguna telepon pintar di Indonesia meningkat tiga kali lipat dalam lima tahun terakhir. Saat ini sudah terdapat sekitar 156 juta pengguna telepon pintar di Indonesia atau sebanding dengan 60 persen dari total populasi penduduk.
 
Pertumbuhan tersebut sangat pesat, ungkap Mendag, karena didukung infrastruktur pita lebar atau broadband yang murah dan cepat, serta jaringan telepon 4G yang jangkauannya sudah luas. Aktivitas niaga elektronik dipastikan akan semakin meningkat di masa depan apalagi bila didukung dengan tumbuhnya minat dan akses pembiayaan bagi perusahaan rintisan digital.
 
"Hal-hal tersebut tentunya merupakan peluang bagus bagi Amazon dalam mendorong pertumbuhan aktivitas niaga elektronik Indonesia. Tantangannya, antara lain infrastruktur dan logistik yang memerlukan biaya besar, serta infrastruktur pembayaran nontunai Indonesia yang masih dalam tahap awal pengembangan," lanjut Agus.
 
Meski menghadapi beberapa tantangan, Agus optimistis bidang niaga elektronik Indonesia akan mengambil langkah besar dalam beberapa tahun ke depan. Terutama Kemendag telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 80 Tahun 2019 tentang perdagangan melalui sistem elektronik (PMSE).
 
Pada pertemuan tersebut, dijelaskan pula tujuan diterbitkan PP tersebut adalah untuk membangun kepercayaan dan rasa percaya diri konsumen untuk bertransaksi dalam PMSE. Selain itu, tujuan lainnya yakni untuk menjaga persaingan bisnis yang adil dan menciptakan ekosistem PMSE yang aman.
 
Mendag juga mengutarakan bahwa Pemerintah Indonesia menyadari bahwa pelaku usaha dari mancanegara menaruh perhatian lebih pada kebijakan moratorium bea impor dalam niaga elektronik.
 
Indonesia pun telah mengenakan pajak atas barang dan jasa yang ditransmisikan secara elektronik dengan tarif nol persen, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 17/2018 tentang Perubahan Kedua atas PMK Nomor 6/2017 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Pengenaan Barang Bea Masuk atas Barang Impor.
 
Saat ini Indonesia mendukung perpanjangan moratorium terkait niaga elektronik tersebut hingga Konferensi Tingkat Menteri ke-12 di Kazakhstan, tetapi masih menolak menegakkan moratorium tersebut secara permanen.

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif