Direktur Utama BRI Asmawi Syam mengatakan, pencapaian orbit BRIsat di atas langit Papua hanya membutuhkan waktu sepuluh hari. Padahal, jadwal yang ditetapkan Space System Loral (SSL) sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap satelit BRI untuk perjalanan BRIsat mencapai orbit membutuhkan waktu selama 12 hari.
"Kita kan prediksinya 12 hari (orbit BRIsat), tapi itu bisa 10 hari. Sekarang kita sedang tes orbit. Kita tes satu-satu item-item apa yang sudah mulai berfungsi. Itu dilakukan oleh SS Loral paralel dengan stasiun bumi kita di Indonesia," ujar Asmawi ditemui di Menara BRI, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Jumat (22/7/2016).
SSL sendiri saat ini masih bertanggung jawab penuh terhadap satelit BRI, termasuk tes orbit untuk mengsinkronkan dengan stasiun pengendali milik BRI yang ada di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan.
"Mereka melakukan tes orbit, kemudian kita mengikuti dan secara bersama-bersama (tes orbit dilakukan) tandem. Mereka ada beberapa teknisi memantau di sini untuk menghubungkan (jaringan stasiun) SSL yang ada di San Fransisco, Amerika Serikat," paparnya.
Asmawi menuturkan, tes orbit BRIsat membutuhkan waktu yang cukup panjang. Dijadwalkan pihak SSL, tes orbit akan rampung pada pertengahan Agustus 2016. Namun begitu, SSL meyakini penuh bahwa tes orbit akan rampung lebih cepat dari perkiraan. Berdasarkan laporan SSL, tes orbit BRIsat akan selesai pada akhir bulan ini.
"Kita usahakan dipercepat (selesai tes orbit) akhir bulan ini. Kalau lihat progresnya, mereka bilang bisa diusahakan lebih cepat dari jadwal. Mereka mau coba (selesaikan tes orbit) di akhir bulan, antara 29 sampai 31 Juli ini," ungkapnya.
Asmawi berharap tes orbit segera rampung agar BRIsat bisa digunakan secepatnya. Jika tes orbit kelar, maka akan dilakukan penyerahan satelit (hand over) dari SSL ke pihak BRI.
"Kita lihat apakah sudah sempurna. Kalau sudah sempurna, dia hand over ke kita. Istilahnya hand over itu kita diberi akses sepenuhnya utk mengendalikan satelit kita itu. Tentunya mereka akan tetap melakukan pendampingan terhadap pengendalian satelitnya. Kalau sekarang kan kendalinya masih ada di mereka," pungkas Asmawi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News