Menggenjot Daya Saing UKM Peritel Tradisional

Husen Miftahudin 23 November 2018 13:06 WIB
ritelhm sampoerna
Menggenjot Daya Saing UKM Peritel Tradisional
Ritel UKM tradisional. (FOTO: dok HM Sampoerna)
Jakarta: PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) berkomitmen meningkatkan daya saing pelaku usaha kecil menengah (UKM) ritel tradisional. Lewat komunitas pedagang tradisional Sampoerna Retail Community (SRC), peritel tradisional dibina untuk meningkatkan kapabilitas dan daya saing mereka.

Kepala Urusan Komersial dan Pengembangan Bisnis Sampoerna Henny Susanto mengakui secara berkelanjutan pihaknya melakukan pembinaan terhadap anggota SRC melalui edukasi penataan toko, strategi pemasaran, dan manajemen keuangan.

"Investasi jangka panjang Sampoerna berfokus pada program-program pemberdayaan yang memberikan dampak bagi pertumbuhan perekonomian bangsa dengan melakukan pendampingan terhadap pelaku ritel tradisional yang tergabung di SRC," ujar Henny dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 23 November 2018.

Henny berharap peritel tradisional mampu berakselerasi dengan perubahan zaman, mandiri secara ekonomi, dan berkontribusi dalam menyejahterakan komunitas sekitarnya. Untuk memberikan edukasi mengenai ekosistem komersial, Sampoerna menggelar Pesta Retail Nasional (PRN) yang diselenggarkan di ICE BSD, Tangerang pada Kamis, 22 November 2018.

"PRN menampilkan replika toko ritel tradisional dan simulasi pembinaan. Para peserta yang terdiri dari 3.000 perwakilan SRC terpilih mendapatkan pengetahuan mengenai peran SRC dalam membangun sosial ekonomi dan keterlibatan semua lini untuk memperkuat jaringan komunitas SRC," lanjut Henny.

Di bagian lain, Sampoerna juga memperkuat ekosistem komersial dengan pemanfaatan teknologi digital melalui aplikasi Ayo SRC untuk memudahkan akses para anggota SRC terhadap informasi pembinaan UKM. "Kami juga berharap sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan bisa lebih banyak merangkul lebih banyak mitra ritel tradisional untuk tumbuh," ungkap dia.

Direktur Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Research Institute Agung Pambudhi menyatakan industri ritel tradisional masih memiliki ruang untuk terus tumbuh. Faktor lokasi, kemudahan mendapatkan barang kebutuhan sehari-hari, hingga nilai-nilai sosial dalam hubungan antara peritel tradisional dengan pembeli membuat ritel tradisional bisa tumbuh lebih baik.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2016, terang Agung, sektor ritel memiliki kontribusi 15,24 persen terhadap total Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap tenaga kerja sebanyak 22,4 juta atau 31,81 persen dari tenaga kerja non pertanian.

"Pada 2017, distribusi toko ritel Indonesia didominasi oleh toko tradisional sebanyak 82,3 persen. Angka ini memperlihatkan masih agresifnya strategi pembukaan toko ritel tradisional yang lebih efektif," jelasnya.

Menurut Sekretaris Deputi Bidang Restrukturisasi Usaha Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop dan UKM) Wardoyo, besarnya potensi tumbuh kembangnya ritel tradisional perlu dukungan secara maksimal dari pemerintah dan sektor dunia usaha agar terjalin sinergi antarketiganya.

"Mendampingi toko ritel tradisional dalam menghadapi tantangan, khususnya di era digitalisasi membuat tumbuh kembang ritel tradisional menjadi lebih besar. Sinergi pemerintah dengan sektor swasta yang memiliki keahlian dalam dunia ritel seperti Sampoerna merupakan inisiatif yang tepat sasaran," tutup Wardoyo.



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id