BPS Tingkatkan Konsentrasi pada Data Ekonomi Kreatif

Nia Deviyana 26 November 2018 16:31 WIB
bpsRevolusi Industri 4.0
BPS Tingkatkan Konsentrasi pada Data Ekonomi Kreatif
Kepala BPS Suhariyanto - - MI/ Adam Dwi
Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) akan meningkatkan konsentrasi pada penyediaan data di sektor ekonomi kreatif. Hal ini sejalan dengan tantangan revolusi industri 4.0 di mana teknologi dan internet berkembang sangat cepat dan dinamis.

"Sesuai visi dan misi pemerintah, pertumbuhan ekonomi itu sebaiknya ditumbuhkan oleh ekonomi kreatif, dan hal-hal yang disukai generasi milenial" ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam seminar bertajuk Satu Data Indonesia Menuju Revolusi Industri 4.0 di Swiss-Belhotel Mangga Besar Jakarta, Senin, 26 November 2018.

Pria yang akrab disapa Kecuk itu menuturkan, ekonomi kreatif sangat penting menjadi fokus karena berdasar pada inovasi sehingga bisa menjadi industri yang berkelanjutan. 

"Contohnya industri animasi yang meski memiliki pangsa pasar lebih kecil, tetapi pertumbuhannya sangat cepat," tambah dia.

Sebelumnya, BPS hanya menangani data statistik dasar. Sementara untuk data sektoral, dikumpulkan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) dan departemen lainnya. Tidak adanya sistem data satu pintu menjadi penyebab perbedaan data pada level nasional atau daerah.

Padahal, data yang akurat berpengaruh pada kebijakan yang akan diambil pemerintah terhadap sektor industri.  Atas dasar itu BPS dan Diskominfo bekerja sama meluncurkan program Sistem Data Statistik Terintegrasi atau SimDaSi. Sistem data satu pintu ini diharapkan bisa memberi gambaran yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan terkait sektor industri sehingga kebijakan yang diambil tepat sasaran.

Selain ekonomi kreatif, BPS akan merilis Neraca Satelit Pariwisata yang memuat data wisatawan domestik dari satu kota ke kota lain beserta moda transportasi yang digunakan. Ini akan memberi gambaran tentang Produk Domestik Bruto dari sektor pariwisata.

"Nantinya data yang dibutuhkan akan lebih banyak menggunakan big data," pungkasnya.



(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id