Pameran Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2019 di JI-Expo. (FOTO: Medcom.id/Ilham Wibowo)
Pameran Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2019 di JI-Expo. (FOTO: Medcom.id/Ilham Wibowo)

Peningkatan Ekspor Furnitur Dibidik Capai Rp71,4 Triliun

Ekonomi kementerian perindustrian furnitur industri
Ilham wibowo • 11 Maret 2019 11:46
Jakarta: Industri mebel dan kerajinan asli Indonesia dinilai punya potensi besar bersaing di pasar dunia. Selain kualitas produk, pertumbuhan industri juga diuntungkan dengan sumber bahan baku.
 
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan potensi ini perlu dimanfaatkan semaksimal mungkin. Target besar telah dicanangkan agar produk Tanah Air bisa bersaing di pasar global.
 
"Perkembangan sektor industri furnitur di Indonesia menunjukkan tren positif, dari tahun ke tahun para pelaku kegiatan industri furnitur semakin bertambah jumlahnya," kata Airlangga saat membuka Pameran Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2019 di JI-Expo, Jakarta, Senin, 11 Maret 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun demikian, kata Airlangga, kinerja ekspor tersebut masih relatif kecil dibandingkan dengan potensi bahan baku yang ada. Pada 2018 nilai ekspor industri furnitur hanya mengalami kenaikan sebesar USD1,69 miliar atau naik empat persen dibandingkan 2017.
 
Karenanya, pemerintah terus mendorong upaya inovasi yang dilakukan para pengusaha mebel dan kerajinan. Diharapkan terget nilai ekspor hingga USD5 miliar atau setara Rp71,4 triliun (kurs Rp14.300 per USD).
 
"Pemerintah mengharapkan industri furnitur dapat berperan lebih besar lagi dalam perekonomian nasional dengan target peningkatan ekspor sebesar USD5 miliar," ungkap Airlangga.
 
Kinerja ekspor furnitur Indonesia tersebut juga dinilai masih relatif kecil dibandingkan dengan nilai perdagangan furnitur dunia yang terus meningkat. Berdasarkan data Centre for Industrial Studies (CSIL) pada 2016 nilai perdagangan dunia adalah sebesar USD145 miliar dan pada 2017 mencapai USD154,5 miliar atau tumbuh rata-rata sekitar 4-5 persen per tahun.
 
Dengan nilai ekspor sebesar USD1,69 miliar pada 2018, Indonesia masih berada pada posisi ke-22. Sementara posisi pertama masih diisi oleh Tiongkok dengan nilai ekspor sebesar USD50,8 miliar.
 
Jika dibanding dengan negara-negara ASEAN lainnya posisi Indonesia juga berada jauh di bawah Vietnam yang menempati posisi ke-7 dengan nilai ekspor sebesar USD5,5 miliar. Negara tetangga Malaysia juga berada pada posisi ke-14 dengan nilai ekspor sebesar USD2,3 miliar.
 
"Kita harus terus berupaya mengejar ketertinggalan tersebut dengan memperbaiki kinerja industri furnitur Indonesia tersebut," kata Airlangga.
 
Seluruh stakeholder terkait dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Kementerian Keuangan, serta para pelaku industri furnitur Indonesia baik hulu maupun hilir diharapkan dapat bersinergi meningkatkan kinerja ekspor furnitur Indonesia.
 
Menurut Airlangga masih banyak permasalahan yang dihadapi untuk mencapai tujuan tersebut. Hingga saat ini sistem logistik dan rantai pasok bahan baku belum terkelola baik. Selain itu permasalahan di bidang teknologi, ketersediaan SDM yang terampil, pengembangan desain, akses pasar, sistem pengupahan, dan berbagai permasalahan lainnya juga perlu segera dibenahi.
 
"Kami sudah buat inovasi semacam riset center Rotan di Palu. Tentunya ini bisa diharapkan terjadi di berbagai industri di Indonesia," ucapnya.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif