Masker. Foto : Medcom/Husen M.
Masker. Foto : Medcom/Husen M.

Penjualan Masker di Apotek Dibatasi

Ekonomi masker Virus Korona
Husen Miftahudin • 09 Februari 2020 16:50
Tangerang: Penjualan masker penutup mulut di sejumlah apotek dibatasi. Hal ini imbas merebaknya virus korona tipe Novel Coronavirus (2019-nCoV).
 
Penjual Apotek Generik di kawasan Kota Tangerang, Rieke menyebutkan penjualan masker penutup mulut berbentuk kemasan dan kotakan dibatasi. Masker kemasan, maksimal pembelian hanya lima kemasan untuk isi empat buah. Sementara itu untuk masker kotakan isi 50 buah, maksimal pembeliannya hanya dua kotak. Itu pun jarang tersedia.
 
"Yang sekotak sudah pada habis, kalau pun ada maksimal belinya cuma boleh dua kotak. Di semua apotek seperti ini berlakunya seperti ini, enggak boleh beli banyak-banyak yang kotakannya, dibatasi," ujar Rieke kepada Medcom.id, Minggu, 9 Februari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Terbatasnya persediaan masker penutup mulut membuat apotek terpaksa membatasi pembelian. Namun demikian, harga yang ditawarkan masih terbilang normal.
 
"Masker yang kotakan kita lagi habis. Soalnya kemarin-kemarin orang banyak yang cari dan beli. Tinggal sachetan," ungkap dia.
 
Adapun masker penutup mulut kemasan dengan isi empat buah dijual dengan harga Rp8 ribu. Sedangkan masker kotakan isi 50 pieces berkisar antara Rp30 ribu hingga Rp50 ribu, sesuai merek.
 
Sebelumnya, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mendesak kepolisian mengusut tingginya harga masker di pasaran. Hal ini buntut mewabahnya virus korona di sejumlah negara.
 
Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi mengaku menerima banyak aduan dari masyarakat terkait melambungnya harga masker. Harga yang naik hingga 100 persen ini membuat stok masker di toko-toko semakin langka.
 
"Ini sebuah tindakan yang tidak bermoral, karena bentuk eksploitatif terhadap hak-hak konsumen, mengambil untung secara berlebihan disaat terjadinya musibah," kata Tulus dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 7 Februari 2020.
 
Selain aparat, YLKI juga meminta KPPU untuk mengusut kasus tersebut. Tulus mengindikasikan adanya tindakan mengambil keuntungan berlebihan (exesive margin) yang dilakukan oleh pelaku usaha atau distributor tertentu.
 
"Menurut UU tentang Persaingan Usaha Tidak Sehat, tindakan excessive margin oleh pelaku usaha adalah hal yang dilarang," ujarnya.
 
Hingga hari ini, Komisi Kesehatan Tiongkok melaporkan total kematian pasien virus korona mencapai 813 orang. Sebanyak 811 kematian terjadi di Tiongkok, sementara dua lainnya masing-masing satu di Filipina dan Hong Kong.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif