Ilustrasi. (FOTO: Media Indonesia)
Ilustrasi. (FOTO: Media Indonesia)

Keputusan Impor Jagung Disesuaikan Kebutuhan

Ekonomi jagung
Eko Nordiansyah • 21 Februari 2019 20:08
Jakarta: Pemerintah memastikan impor jagung yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan dalam negeri. Meskipun para petani jagung di Indonesia berproduksi, namun tingginya harga yang terjadi beberapa waktu lalu memaksa pemerintah membuka keran impor jagung.
 
Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono mengatakan, data yang akurat untuk menggambarkan jumlah komoditas pangan sangat penting. Termasuk untuk pengambilan keputusan atau pembuatan kebijakan di bidang pangan.
 
"Dalam mengambil keputusan di rapat koordinasi (rakor), kami harus mem-balance kepentingan-kepentingan yang ada di sana," kata dia di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Kamis, 21 Februari 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurutnya, data-data yang dikeluarkan satu kementerian/lembaga (K/L) harus sinkron dengan K/L lainnya. Terutama ketika data tersebut dibutuhkan untuk mengambil keputusan dalam rakor pangan yang sering diadakan oleh Kemenko Bidang Perekonomian.
 
"Ini tidak mudah, karena pastinya ada perbedaan kepentingan antara produsen dan konsumen bahan pangan tersebut. Sehingga, untuk (mencapai kondisi) balance dibutuhkan data atau neraca pangan yang akurat," jelas dia.
 
Data Badan Pusat Statistik (BPS), impor jagung selama 2018 mencapai 737.228 ton, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya 517.419 ton. Namun impor jauh lebih rendah dibandingkan 2014 yang mencapai 3,24 juta ton, 2015 mencapai 3,26 juta ton, dan 2016 sebesar 1,13 juta ton.
 
Sementara berdasarkan data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (Ditjen TP) Kementerian Pertanian (Kementan), produksi jagung dalam lima tahun terakhir meningkat rata-rata 12,49 persen per tahun.
 
Itu artinya, 2018 produksi jagung diperkirakan mencapai 30 juta ton pipilan kering (PK). Hal ini juga didukung oleh data luas panen per tahun yang rata-rata meningkat 11,06 persen, dan produktivitas rata-rata meningkat 1,42 persen (BPS, 2018).
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif