Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. (FOTO: Medcom.id/Eko Nordiansyah)
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. (FOTO: Medcom.id/Eko Nordiansyah)

Airlangga Ungkap Kunci Industri Nasional Mendunia

Ekonomi pertumbuhan industri Revolusi Industri 4.0
Ade Hapsari Lestarini • 01 Januari 2019 11:59
Jakarta: Pemerintah memiliki langkah strategis untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang inklusif melalui peta jalan Making Indonesia 4.0.

Peta jalan ini sebagai strategi dan arah yang jelas dalam pengembangan industri nasional ke depan, terutama kesiapan memasuki era revolusi industri 4.0.

Langkah strategis tersebut menjadi agenda nasional untuk diimplementasikan secara kolaborasi dan sinergi di antara pemangku kepentingan guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang inklusif.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



"Visi pembangunan industri memang harus bersifat jangka panjang. Di dalam Making Indonesia 4.0, aspirasi besarnya adalah mewujudkan Indonesia masuk dalam jajaran 10 negara dengan perekonomian terkuat di dunia pada 2030," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Selasa, 1 Januari 2019. Menperin mengemukakan peta jalan tersebut mampu merevitalisasi industri manufaktur nasional agar lebih berdaya saing global di era digital. Adapun lima sektor yang telah dipilih dan mendapat prioritas pengembangan untuk menjadi pionir dalam penerapan revolusi industri 4.0, yakni industri makanan dan minuman, industri tekstil dan pakaian, industri otomotif, industri kimia, dan industri elektronika.

"Kelima sektor tersebut dipilih berdasarkan hasil studi, karena dari lima sektor itu mampu memberikan kontribusi terhadap PDB sebesar 60 persen dan 60 persen tenaga kerja di industri dari lima sektor tersebut. Bahkan, kalau kita berbicara produksi global, 60 persen yang beredar di dunia adalah produk dari lima sektor itu," paparnya.

Namun demikian sektor industri lainnya bukan berarti tidak berperan penting. Penerapan industri 4.0 tidak akan meninggalkan sektor yang saat ini masih menggunakan teknologi di era industri 1.0-3.0.

"Misalnya industri tenun yang memakai ATBM atau industri batik dengan canting. Terhadap sektor tersebut, pemerintah berkomitmen untuk memproteksi, seperti investor asing tidak boleh masuk di situ atau masuk daftar negatif investasi," jelasnya.

Dia menambahkan implementasi industri 4.0 diyakini meningkatkan produktivitas dan kualitas secara lebih mudah dan maksimal. "Namun, seiring dengan kita mendorong ke arah teknologi industri 4.0, kita harus juga membangun device, network, dan application (DNA) di dalam negeri," tegasnya.

Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian akan memfasilitasi pembangunan Digital Capability Center (DCC). "Mereka yang belum menerapkan atau bagi sektor industri kecil dan menengah (IKM), mereka bisa memanfaatkan DCC. Kami menargetkan satu atau dua pusat inovasi tersebut telah terbangun sebelum April 2019," ungkap Airlangga.

Kemenperin pun telah menunjuk proyek percontohan (lighthouse industry) bagi lima sektor unggulan yang ditetapkan di dalam Making Indonesia 4.0. Beberapa perusahaan yang sudah menjadi percontohan dalam implementasi industri 4.0, di antaranya PT Schneider Electric Manufacturing di sektor industri elektronika, PT Chandra Asri Petrochemical di industri kimia, dan PT Mayora Indah Tbk di industri makanan dan minuman.

Kemudian Sritex di industri tekstil dan pakaian, serta PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia di industri otomotif. "Di beberapa industri tersebut sudah diaplikasikan artificial intelligence (AI) dan digitalisasi," imbuhnya.

Sementara itu, berdasarkan sasaran dari Making Indonesia 4.0, Indonesia akan menjadi lima besar eksportir untuk industri makanan dan minuman di tingkat global pada 2030. Di periode yang sama, Indonesia sebagai produsen tekstil dan pakaian yang masuk dalam jajaran lima besar dunia.

Selanjutnya industri otomotif di Indonesia ditargetkan sudah memproduksi kendaraan listrik dan melakukan ekspor ke negara berkembang. Kemudian, Indonesia mampu membangun kemampuan industri elektronika lokal untuk manufaktur komponen lanjutan. Dan, di industri kimia, Indonesia dibidik menjadi produsen biofuel dan bioplastik yang masuk lima besar dunia pada 2030.

 


(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi