Direktur Keuangan dan Kepatuhan Adira Finance I Dewa Made Susila (Foto: linkedin)
Direktur Keuangan dan Kepatuhan Adira Finance I Dewa Made Susila (Foto: linkedin)

Perlambatan Ekonomi Pukul Bisnis Industri Perusahaan Pembiayaan

Ekonomi multifinance
Angga Bratadharma • 02 Agustus 2016 21:35
medcom.id, Jakarta: Ekonomi Indonesia yang masih mengalami perlambatan pertumbuhan memberi pukulan terhadap bisnis industri perusahaan pembiayaan (multifinance) di Indonesia. Hal ini tentu disayangkan mengingat multifinance memiliki peranan cukup penting terhadap perekonomian nasional.
 
Direktur Keuangan dan Kepatuhan Adira Finance I Dewa Made Susila menjelaskan, situasi dan kondisi perekonomian yang sebelumnya mengalami perlambatan mulai terasa mengalami perbaikan sekarang ini. Namun, tidak ditampik laju pertumbuhan ekonomi Indonesia belum terakselerasi di angka lima persen. Adapun perekonomian yang belum berlari kencang memiliki dampak.
 
"Ekonomi belum tumbuh cepat dan lapangan kerja belum banyak, karenanya pembiayaan di roda dua melambat. Pembiayaan kendaraan bermotor di tahun ini turun tujuh persen, tapi membaik dibandingkan tahun lalu. Ini akan membaik sampai ekonomi naik. Itu fungsi daya beli dan tenaga kerja," kata Made, di Pastis Kitchen & Bar, Aston Kuningan Suites, Jakarta, Selasa (2/8/2016).
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menambahkan, karena faktor utama tenaga kerja adalah komoditas dan komoditas belum mengalami pebaikan maka dampaknya lapangan kerja belum terbuka secara lebar. Akhirnya, masyarakat belum memiliki penghasilan dan berdampak terhadap daya beli. Hal semacam ini yang memberi tekanan terhadap pembiayaan roda dua.
 
Sementara di roda empat atau segmen mobil, lanjut Made, tidak ditampik mengalami pertumbuhan flat yakni hanya satu persen di semester I-2016 dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Hingga Juni 2016, penjualan mobil baru domestik telah mencapai 532 ribu unit dari sebelumnya di 525 ribu unit.
 
"Di mobil itu ada dua segmen, yakni mobil penumpang atau niaga. Niaga itu refleksi dari ekonomi. Kalau ekonomi melambat maka niaga melambat karena niaga itu untuk ngangkut CPO, transportasi, ngangkut material, dan semacamnya. Kalau ekonomi melambat ya niaga melambat. Kan konsisten kalau ekonomi belum pulih," pungkasnya.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif