Tidak tanggung-tanggung, rencana kenaikan Fed Fund Rate (FFR) akan dilakukan bertahap dan dalam jangka waktu yang cukup panjang. Tahun ini saja kenaikannya diprediksi hingga empat kali dan telah direalisasikan dalam dua kesempatan sehingga FFR telah bertengger di dua persen.
Kepala Eksekutif LPS Fauzi Ichsan memprediksi bahwa kenaikan suku bunga The Fed bila berlanjut hingga 24 bulan ke depan tidak akan melebihi 3,5 persen. Hal ini mengacu pada data inflasi di Amerika Serikat yang bakal anteng di level tiga persen.
Bila menilik pada angka yang ada saat ini bahwa FFR berada di level dua persen, terdapat rentang 1,5 persen potensi kenaikan suku bunga AS dalam dua tahun mendatang.
Respons yang diberikan berbeda-beda. Ada yang menaikan suku bunga, ada juga yang mencoba bertahan. Negara-negara di Asia dan Amerika Latin umumnya cenderung mengikuti kenaikan suku bunga. Berbeda dengan Eropa yang mencoba bertahan untuk tidak ikut-ikutan menaikan suku bunga.
Indonesia tidak lepas dari pengaruh kenaikan bunga The Fed. Apalagi kenaikan suku bunga dibutuhkan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang cukup tertekan setelah BI sempat terdiam untuk tidak ikut-ikutan menaikkan suku bunga pada kuartal pertama tahun ini.
Baru dalam Mei lalu, BI mengambil sikap untuk menaikkan suku bunga acuan hingga dua kali guna merespons kondisi yang ada.
Yang menjadi masalah adalah kenaikan suku bunga acuan bank sentral akan meningkatkan suku bunga kredit. Kenaikan bunga kredit pada gilirannya akan mengurangi kemampuan debitur untuk membayar kewajibannya. Ujung-ujungnya kredit macet berpotensi naik.
Jalan satu-satunya adalah mencari keseimbangan baru terhadap suku bunga kredit. BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah meminta agar perbankan meningkatkan efisiensinya guna menghindari by pass kenaikan suku bunga acuan ke suku bunga kredit.
Para bankir pun telah banyak melontarkan janji untuk tidak segera memberlakukan kenaikan suku bunga kredit. Namun tetap saja rasa waswas menghinggapi para nasabah peminjam , utamanya kredit konsumer seperti KPR.
Harapan agar bunga kredit untuk tidak naik tetap ada. Kuncinya adalah kepiawaian dari bankir untuk mengelola biaya dan margin keuntungan yang diharapkannya. Data BI menunjukan bahwa nett interest margin bank-bank di Indonesia mencapai lima persen, tertinggi di kawasan ASEAN.
Bila langkah efisiensi tidak cukup membantu menahan beban kenaikan suku bunga, memangkas NIM adalah pilihan yang paling masuk akal.
Namun itu bukan pilihan yang mudah karena sama saja merelakan sebagian keuntungan atau profit yang telah ada di depan mata berpindah ke nasabah. Tapi itu tentu lebih baik ketimbang menimbulkan kredit macet. (Media Indonesia)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News