Kepala BPS Suryamin mengungkapkan, surplus yang terjadi pada dua sektor migas dan nonmigas ini merupakan pertama kalinya sejak lima tahun terakhir. Padahal, jika dibandingkan dengan bulan lalu, justru ekspor Indonesia mengalami penurunan sebanyak 7,99 persen.
"Di sini kita lihat, untuk neraca perdagangan bulan Februari 2015, surplus baik migas maupun nonmigas ini, yang pertama kali sejak lima tahun terakhir," ungkap Suryamin dalam konferensi pers di kantornya, Jalan Dr Sutomo No 6-8, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Senin (16/3/2013).
Ekspor Indonesia pada Februari 2015 sebenarnya terjadi penurunan dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun lalu (yoy). Termasuk nilai ekspor kumulatif tahunan dibanding 2014, juga mengalami kondisi yang merosot.
"Dibanding dengan bulan Februari 2014, ekspor sekarang turun 16,02 persen. Secara kumulatif, nilai ekspor Januari-Februari 2015 mencapai USD25,64 miliar atau menurun 11,89 persen dibanding periode yang sama tahun 2014," ujar dia.
Hal yang menggembirakan, tutur Suryamin, impor Indonesia juga mengalami penurunan, sehingga neraca perdagangan Indonesia pada bulan ini terselamatkan. Nilai impor Indonesia pada Febuari 2015 mencapai USD11,55 miliar atau turun 8,42 persen dibanding Januari 2015. Demikian pula jika dibanding Februari 2014 turun sebanyak 16,24 persen.
Impor nonmigas Februari 2015 mencapai USD9,83 miliar atau turun 6,34 persen dibanding Januari 2015. Sementara bila dibanding Februari 2014 turun 4,86 persen.
Sedangkan untuk impor sektor migas pada Februari 2015 mencapai USD1,72 miliar atau turun 18,70 persen dibanding Januari 2015, demikian pula jika dibanding Februari 2014 turun 50,26 persen.
"Nilai impor nonmigas terbesar Februari 2015 adalah golongan barang mesin dan peralatan mekanik dengan nilai USD1,82 miliar. Nilai ini turun 10,29 persen dibanding impor golongan barang yang sama pada Januari 2015," pungkas Suryamin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News