Illustrasi. Foto : MI/RAMDANI.
Illustrasi. Foto : MI/RAMDANI.

Tekan Inflasi, BI Gaet UMKM untuk Pengambangan Bawang Putih

Ekonomi Bawang Putih
Daviq Umar Al Faruq • 11 September 2019 15:01
Malang: Bank Indonesia sedang gencar memelihara kestabilan nilai rupiah dengan cara mencapai tingkat inflasi rendah dan nilai tukar yang stabil. Salah satunya dengan mengembangkan program pengembangan UMKM dan klaster bekerjasama dengan pemerintah daerah dan dinas terkait.
 
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Malang Azka Subhan mengatakan pengembangan klaster saat ini lebih difokuskan pada komoditas yang mendukung ketahanan pangan, komoditas berorientasi ekspor, serta komoditas sumber tekanan inflasi atau volatile foods (VF). Komoditas inflasi VF yang memiliki bobot besar dalam inflasi antara lain beras, cabai merah, bawang merah, daging ayam ras, dan daging sapi.
 
Sedangkan, berdasarkan data Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian, sekitar 95 persen kebutuhan bawang putih di Indonesia masih dipenuhi oleh impor dari luar negeri, khususnya Tiongkok. Sehingga perlu untuk adanya program pengembangan bawang putih untuk memenuhi ketersediaan stok di dalam negeri.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Pengembangan komoditas bawang putih merupakan salah satu upaya Bank Indonesia untuk mengurangi ketergantungan impor bawang putih serta mengurangi defisit transaksi berjalan," katanya, Rabu, 11 September 2019.
 
KPw BI Malang telah mengembangkan beberapa klaster ketahanan pangan antara lain klaster padi, bawang merah, hortikultura (cabe merah dan kentang), serta klaster kopi untuk komoditas unggulan. Program kerja pengembangan klaster pada 2019 salah satunya adalah pengembangan klaster bawang putih.
 
Pengembangan klaster bawang putih dalam upaya meningkatkan produktifitas dilakukan melalui beberapa tahapan. Mulai dari melakukan survei dan identifikasi komoditas bawang putih di wilayah kerja KPw BI Malang serta melakukan koordinasi dan FGD dengan Dinas Pertanian Kota Batu dan Kelompok Tani.
 
Lalu KPw BI Malang juga melakukan kerjasama dengan tenaga ahli dari Pusat Kajian Pengendalian Hama Terpadu (PKPHT) Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang. Meliputi pendampingan pengolahan lahan, pembuatan pupuk kompos (organik), serta pemeliharaan lahan, peningkatan produktifitas bawang putih, penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) budidaya bawang putih, penerapan agens hayati, pembuatan kompos, serta pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), pembuatan lahan implementasi atau demplot klaster bawang putih seluas 5.000 meter persegi di Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu.
 
"Kami juga melakukan kegiatan studi lapang bersama Dinas Pertanian Kota Batu, PPL Kota Batu, PKPHT serta Poktan Tani Maju ke sentra bawang putih di Kabupaten Tegal dan Kabupaten Karanganyar pada April 2019," ungkapnya.
 
Azka menambahkan bantuan sarana dan prasarana dari Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) berupa alat-alat pertanian dan pembangunan laboratorium agens hayati. Bantuan tersebut dirasa cukup berhasil.
 
"Ternyata dalam prakteknya. umbinya jadi besar-besar. Dengan organik juga dapat menurunkan biaya produksi. Kita menggunakan kotoran-kotoran, kemudian pestisida hayati lebih murah dari pestisida kimia," katanya.
 
Setelah dibantu KPw BI Malang, produktifitas bawang putih di Desa Tulungrejo pun meningkat. Bila panen biasanya hanya dapat menghasilkan enam ton bawang putih, namun kini bisa mencapai delapan ton.
 
"Kami harap naiknya produktifitas ini, membuat petani jadi tambah semangat. Biaya produksi turun, produktifitas naik. Itu luar biasa. Nah ini mudah-mudahan menular dan menginspirasi petani-petani yang lain," pungkasnya.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif