Ilustrasi baja. FOTO: AFP.
Ilustrasi baja. FOTO: AFP.

Produsen Beberkan Alasan Impor Baja Masuk

Ekonomi emiten baja
Annisa ayu artanti • 19 September 2019 15:57
Jakarta: Produsen baja PT Gunung Raja Paksi Tbk (GGRP) menilai suplai baja dalam negeri tidak sebanding dengan jumlah proyek infrastruktur. Hal itu yang menyebabkan arus baja impor lebih mudah masuk ke Indonesia.
 
Direktur Utama Gunung Raja Paksi Alouisius Maseimilian mengatakan di era pemerintahan Joko Widodo pembangunan infrastruktur masif dilakukan.
 
Tahun lalu, kebutuhan baja dalam negeri mencapai 15,08 juta ton. Sementara suplai hanya bisa memenuhi 49 persen dari total kebutuhan. Kekurangan pasokan dalam negeri tersebut yang membuat baja impor memiliki celah masuk ke pasar Indonesia.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kita di Indonesia pertumbuhannya (produksi) agak pelan tidak seimbang, dengan pertumbuhan investasi di infrastruktur," kata Direktur Utama Gunung Raja Paksi Alouisius Maseimilian di Gedung BEI, Jakarta, Kamis, 19 September 2019.
 
Meski demikian, ia melihat, seharusnya pemain baja dalam negeri masih memiliki peluang yang sangat luas untuk bertumbuh. Apalagi dengan posisi Indonesia yang memiliki pertumbuhan Gross Domestik Produk (GDP) di atas lima persen.
 
"Dengan adanya pertumbuhan ini, konsumsi baja per kapita ikut bertumbuh. Ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki prospek usaha yang tinggi karena memiliki tingkat konsumsi yang berpotensi bertambah menyamai negara-negara tentangga di masa mendatang," jelas dia.
 
Untuk menekan persaingan baja impor, perlu suplai baja yang lebih besar dari dalam negeri. Tahun ini, perusahaan menargetkan produksi mencapai 1,252 juta ton. Sementara tahun depan sebesar 1,3 juta ton.
 
"2020 akan terjadi peningkatan sekitar 1,3 juta ton," tukas dia.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif