Menteri BUMN Erick Thohir. Foto: Medcom.id/Suci Sedya Utami.
Menteri BUMN Erick Thohir. Foto: Medcom.id/Suci Sedya Utami.

Jadi Menteri BUMN, Erick Thohir Sempat Kebingungan

Ekonomi Kabinet Jokowi-Maruf rehat kementerian bumn
Suci Sedya Utami • 30 Oktober 2019 12:43
Jakarta: Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengaku sempat kebingungan saat awal dirinya menjabat sebagai menteri di Kabinet Indonesia Maju.
 
Berlatar belakang sebagai pengusaha swasta, Erick mengatakan ada yang berbeda dalam menjalankan tugasnya sehari-hari sebagai birokrat. Namun dia mengatakan ada satu kunci yang sama yang diterapkan untuk mengurus perusahaan-perusahaan swasta maupun pemerintahan, yakni tata kelola yang baik (good corporate governance/GCG).
 
"Dari swasta ke pemerintah masih bingung-bingung, tapi niatnya benar. Kuncinya sama, GCG, mestinya semua bisa," kata Erick di Jakarta, Selasa, 29 Oktober 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Erick mengakui tidak mudah dalam menjalankan tugas sebagai Menteri BUMN. Sebab, harus mengurusi 142 perusahaan pelat merah dengan aset yang sangat besar hampir mencapai Rp8.500 triliun. Dia menuturkan apabila manajemen GCG-nya tidak baik, maka isu seperti korupsi akan membuat citra BUMN negatif.
 
Oleh karena itu mantan Presiden Inter Milan ini mengatakan dirinya akan melakukan 'bersih-bersih' di BUMN. Namun dipastikan pembenahan tersebut bukan tentu harus mengganti jajaran direksi.
 
"Tapi bersih-bersih bukan berarti mengganti. Selama kita bisa improve, kenapa mesti diganti. Tapi kalau saya dan pak wamen siap dicopot, ya direksinya mesti siap dicopot apalagi jika ada hal-hal yang tidak baik," tutur dia.
 
Erick mengatakan di awal masa tugasnya sebagai Menteri BUMN, dirinya harus memenuhi indeks performa yang menjadi kunci atau key performance index (KPI). Ada beberapa program yang dituntut Presiden Joko Widodo pada Erick yang nantinya menjadi dasar penilaian KPI tersebut.
 
Beberapa program tersebut yakni memperbaiki Jiwasraya, Krakatau Steel, kemudian negosiasi antara Saudi Aramco dengan Pertamina terkait Kilang Cilacap, serta proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung.
 
"Fokus empat ini dulu. Namun ada delapan KPI tambahan. Yang pasti akan kita lakukan kalau ini (empat) sudah ada progres sembari pembenahan ke dalam," jelas Erick.
 

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif