Ilustrasi. Foto : MI/RAMDANI.
Ilustrasi. Foto : MI/RAMDANI.

Bisnis Logistik di Tengah Pusaran Belanja Online

Ekonomi logistik belanja online
Desi Angriani • 29 September 2019 16:46
Jakarta: Belanja online nampaknya mulai menjadi candu bagi masyarakat Indonesia. Ghoida, 27, hobi berbelanja melalui marketplace sejak beberapa tahun lalu. Dalam satu bulan saja, kurir ekspedisi bisa bolak-balik hingga lima kali mengantarkan paket ke rumahnya. Bahkan mencapai delapan kali saat pekan belanja online nasional atau promo diskon berlangsung.
 
Kebiasaan tersebut membuat Ghoida tak lagi mampir ke pusat perbelanjaan atau mal. Melalui marketplace, ia bisa memilih berbagai kebutuhan seperti perlengkapan mandi, make-up, pakaian hingga bahan makanan. Bahkan, Ghoida bisa memperoleh harga terbaik dengan membandingkan beberapa situs belanja online.
 
"Kalau di marketplace tinggal milih doang terus check out, dan banyak promo. Itu yang bikin belanja semakin lebih mudah. Mulai dari perlengkapan mandi bahkan indomie dan bahan makanan juga ada di situs belanja online. Dan harganya bisa lebih murah," ungkap karyawan swasta ini saat berbincang dengan Medcom.id.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Fenomena tersebut dipicu oleh kemajuan teknologi, khususnya penggunaan internet dan smartphone. Apalagi pengguna internet di Indonesia mencapai 171,17 juta jiwa atau sekitar 64,8 persen di 2018. Dari jumlah itu, sebanyak 78 persen pengguna internet melakukan pembelian online. Artinya, peluang pertumbuhan perdagangan elektronik (e-commerce) semakin meningkat seiring tingginya minat konsumen terhadap transaksi virtual.
 
Hal ini tercermin dari penjualan online di Indonesia yang sudah mencapai USD1,1 miliar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan industri e-commerce dalam negeri meningkat hingga 17 persen dengan total jumlah usaha e-commerce mencapai 26,2 juta unit.
 
Di sisi lain, budaya belanja online berimplikasi terhadap pertumbuhan ekonomi digital dalam negeri. Melansir riset terbaru Google dan Temasek, ekonomi digital tahun ini tumbuh hingga USD27 miliar atau sekitar Rp391 triliun. Angka tersebut menjadikan transaksi ekonomi digital Indonesia berada di peringkat pertama untuk kawasan Asia Tenggara dengan kontribusi sebesar 49 persen.
 
Di tengah pusaran ekonomi digital ini, bisnis pengiriman barang paling diuntungkan. Sejalan dengan proyeksi bisnis logistik yang melonjak 7,9 persen dalam lima tahun ke depan. Adapun freight forwarding menjadi segmen dengan pertumbuhan tercepat dengan proyeksi CAGR sebesar 9,2 persen.
 
Direktur JNE Muhammad Feriadi menilai usaha logistik dan pengiriman merupakan bisnis yang menarik dalam era kekinian. Konsumen bisa membeli barang yang ada di kota lain dalam satu provinsi, bahkan luar provinsi lewat satu genggaman. Karena itu pengemasan dan pendistribusian yang baik dan tepat sasaran menjadi penting.
 
Setelah 29 tahun mengepakkan sayap, JNE sebagai salah satu penyedia jasa ekspedisi meraup untung cukup banyak dari perubahan pola belanja masyarakat. Tak heran bila logistik kini menjadi bagian dari gaya hidup di era digital.
 
Aktivitas pengiriman logistik pun semakin sibuk. Rata-rata pengiriman via JNE per hari mencapai satu juta. Feriadi bilang bisnis jasa ekspedisi tumbuh di atas 30 persen dalam beberapa tahun terakhir.
 
"Apalagi e-commerce tumbuh dan kita bekerja sama sehingga menjadi penguat brand kita. Belanja di mana pun akhirnya dikirim via logistik dan kita beruntung banyak pengiriman, akibat berkah e-commerce," kata Feriadi dalam program top executive Metro Tv.
 
Feriadi mengungkapkan 70 persen pendapatan JNE berasal dari sektor ritel. Sisanya, disokong oleh korporat. Dari 70 persen pendapatan ritel itu, separuhnya bersumber dari transaksi e-commerce.
 
Bila melihat sebaran wilayah, transaksi terbesar masih berada di Jabodetabek lantaran didukung populasi yang padat. Sekitar 50 sampai 60 persen aktivitas pengiriman barang terjadi di wilayah tersebut, sisanya berasal dari luar Jabodetabek.
 
"Jadi itulah gambarannya seberapa besar kontribusi e-commerce terhadap revenue JNE kira-kira di kisaran angka 50 persen," terang Ketua Umum Asperindo ini.
 
Sementara itu, Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi menambahkan industri e-commerce tidak hanya mengubah gaya hidup masyarakat, tetapi juga perubahan pola distribusi dan peningkatan pergerakan angkutan udara.
 
Bila dilihat dari sisi volume, lalu lintas angkutan udara dalam negeri bisa mencapai angka pertumbuhan sekitar 5-6 persen dibandingkan tahun lalu.
 
"Kenaikan signifikan angkutan udara ini dibandingkan dengan angkutan lain yang dikaitkan dengan kegiatan e-commerce," jelasnya.
 
Adapun kebutuhan ruang gudang logistik diperkirakan meningkat sekitar 240 ribu meter persegi pada 2021. Saat ini, kontribusi penjualan terhadap total penjualan ritel hanya sebesar satu persen. Bisnis e-commerce sudah menyumbang tiga persen dari total pasokan 8,1 juta m2 gudang logistik.
 
Sektor Logistik Tanah Air Perlu Dibenahi
 
Kebutuhan ruang gudang logistik diperkirakan meningkat sekitar 240 ribu m2 pada 2021. Peningkatan kebutuhan tersebut sejalan dengan perluasan bisnis e-commerce. Penetrasi perdagangan elektronik ini akan menjadi tumpuan baru bagi sektor logistik yang sebelumnya bersandar pada industri manufaktur.
 
Berdasarkan hasil penelitian Ernst & Young, bisnis e-commerce diperkirakan meningkat 10 kali lipat dari 2015 hingga 2020 dengan proyeksi angka Rp1.800 triliun. Hal tersebut dapat menjadi potensi besar bagi pengusaha jasa pengiriman barang apabila disertai dengan sistem yang kuat.
 
Karenanya, pengiriman logistik e-commerce memerlukan strategi kolaborasi antarpengusaha agar pelayanan menjadi lebih baik terutama untuk Indonesia yang merupakan negara kepulauan.
 
Direktur JNE Muhammad Feriadi mengakui sektor logistik masih menemui kendala baik internal maupun eksternal. Dari sisi internal berupa penerapan sistem, kompetensi para pegawai dan ongkos distribusi. Sementara faktor eksternal berasal dari regulasi pemerintah yang tidak mendukung laju pertumbuhan bisnis jasa ekspedisi.
 
Untuk JNE, Feriadi sudah meninggalkan pola manual dan beralih menggunakan sentuhan digital agar menjadi lebih kompetitif. Ia meluncurkan aplikasi dan menerapkan sistem notifikasi untuk setiap pengiriman dari JNE agar tidak ditinggalkan konsumen.
 
"Begitu banyak dari eksternal dan internal kita melihat perubahan begitu cepat karena teknologi yang berkembang. Kalau kita tidak berubah kita ditinggal pelanggan. Kalau eksternal misalnya pemerintah buat aturan yang tidak memperhatikan kami sebagai pelaku," ungkapnya.
 
Sementara perkembangan industri logistik Tanah Air disebut masih tertinggal 20 tahun dari negara-negara tetangga. Pasalnya, Indonesia belum memiliki standarisasi sistem logistik yang baku untuk semua penyedia jasa.
 
Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zaldy Ilham Masita mengungkapkan standarisasi sistem logistik sangat penting mengingat kapasitas domestik dalam negeri tidak terlalu besar. Apalagi standar itu akan mengatur proses logistik, alat bantu logistik hingga informasi logistik.
 
Di sisi lain, setiap penyedia jasa mesti berkolaborasi atau saling bekerja sama dalam mengoptimalkan kapasitas logistik. Hal ini dipercaya dapat menurunkan biaya logistik yang masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah.
 
"Negara lain bahkan tetangga kita kayak Thailand, Singapura, Vietnam sudah punya standar itu dari lama, sedangkan kita sudah ada masukan tapi tidak pernah ditegaskan untuk dijalankan dengan baik," ungkapnya.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif