Illustrasi. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja.
Illustrasi. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja.

Harga Semakin Pedas, Pengusaha Kurangi Pengunaan Cabai

08 Januari 2017 14:23
medcom.id, Blitar: Pengusaha sambel pecel di Blitar, Jawa Timur terpaksa mengurangi pembelian cabai, sebagai dampak meroketnya harga cabai yang hampir menembus angka Rp100 ribu per kilogram (kg). 
 
Supriyati, salah seorang pengusaha sambel pecel asal Desa Gleduk, Kecamatan Sanan Kulon, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, mengatakan dalam sekali produksi, biasanya ia membutuhkan cabai hingga 11 kg.
 
"Biasanya butuh 11 kilogram, tapi karena harga cabai mahal saya kurangi dua kilogram," katanya pada wartawan di Blitar dikutip dari Antara, Minggu (8/1/2017). 

Ia mengaku kenaikan harga cabai membuatnya harus mengeluarkan biaya berlebih. Padahal, cabai adalah salah satu bahan utama dalam pembuatan sambel pecel.
 
Selain sambel pecel, bahan lainnya adalah kacang, daun jeruk purut, serta aneka bumbu dapur, misalnya bawang puting, gula, dan bumbu lainnya. Namun, dari beragam bumbu untuk membuat sambel pecel itu, yang paling penting adalah cabai.
 
"Saat ini, harga cabai di pasar sudah hampir Rp100 ribu per kilogram. Padahal, kebutuhan untuk cabai sangat besar, sehingga terpaksa mengeluarkan biaya ekstra," jelas dia. 
 
Ia mengaku tidak berani mengurangi takaran bumbu, sebab khawatir para pelanggannya akan lari. Walaupun harga mahal, ia hanya bisa berharap usahanya tetap berjalan baik.
 
"Saya hanya mempertahankan konsumen agar tidak lari. Jika tidak dilayani, langganan akan lari," katanya.
 
Ia berharap harga cabai bisa secepatnya stabil, sehingga pengusaha kecil seperti dirinya tidak terlalu menderita kerugian. Dalam sekali produksi, ia bisa mengeluarkan tambahan biaya hingga Rp500 ribu, yang salah satunya karena tingginya harga cabai dan tidak berimbang dengan harga sambel pecel.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan