Direktur Utama Pelindo II Elvyn G Masassya mengungkapkan, kenaikan pendapatan yang berhasil didapat perusahaan pelat merah yang bergerak di bidang usaha pelabuhan tersebut karena perseroan melakukan efisiensi biaya operasional.
Efisiensi biaya operasional utamanya dengan melakukan digitalisasi pelayanan. Sistem baru lewat digitalisasi pelayanan yang dilakukan Pelindo II itu disebutnya paling signifikan dalam menekan biaya operasional.
"Yang paling umum saja. Di kantor, dulu, masih banyak yang memakai kertas, kalau sekarang bisa pakai gadget. Dulu kan cetak invoice, sekarang tidak usah, jadi prosesnya menuju digitalisasi," ujar Evelyn, dalam media gathering di Hotel Hilton, Jalan HOS Tjokroaminoto, Bandung, Jumat 3 Februari.
Selain itu, lanjutnya, perseroan juga melakukan perbaikan penerimaan pendapatan melalui skema kerja sama dengan swasta. Ada negosiasi biaya yang dikeluarkan dengan perusahaan swasta yang dikerjasamakan oleh Pelindo II.
"Kemudian ada aset yang belum optimal kita optimalkan. Jadi dengan cara mengurangi aset-aset dan meningkatkan utilisasi untuk meningkatkan revenue," papar dia.
Di 2016, Pelindo II juga mencatatkan Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation and Amortization (EBITDA) atau laba sebelum bunga dan pajak sebanyak Rp3,2 triliun. Jumlah tersebut naik 16,99 persen dibandingkan dengan di tahun sebelumnya sebesar Rp2,4 triliun.
Sementara untuk trafik arus penumpang ada penurunan dari 816,7 ribu orang menjadi 562,7 ribu orang. Ini disebabkan oleh adanya peralihan penumpang ke transportasi udara. Penurunan juga terjadi pada trafik kapal yang berlabuh dari 201,73 juta GT menjadi 157,69 juta GT.
"Perseroan juga untuk 2016 menangani 6,08 juta TEU peti kemas ini, dan tentunya menambah fasilitas terminal petikemas internasional baru, Terminal Peti kemas Kalibaru yang dioperasikan oleh PT New Priok Container Terminal One (NPCT1)," pungkas Evelyn.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News