NEWSTICKER
Petani saat mengunduh lada. FOTO: MI/Eva Pardiana.
Petani saat mengunduh lada. FOTO: MI/Eva Pardiana.

Kemendag Upayakan Kenaikan Harga Lada

Ekonomi Harga Lada
Ilham wibowo • 20 September 2019 15:35
Jakarta: Kelebihan suplai dibandingkan permintaan menyebabkan harga lada terus tertekan sejak 2016 sehingga memengaruhi pendapatan petani. Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendukung berbagai upaya peningkatan konsumsi lada demi menyerap kelebihan suplai lada.
 
Hal tersebut dinyatakan Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Hubungan Internasional Arlinda saat membuka Forum Diskusi Hari Lada yang mengangkat tema 'Lada Indonesia: Kini dan Masa Depan'. Internationtal Pepper Community (IPC) yang anggotanya terdiri dari negara produsen lada dunia yaitu India, Indonesia, Malaysia, Sri Lanka, dan Vietnam; serta dua negara associate member yakni Papua Nugini dan Filipina dinilai perlu memperkuat akses perdagangan lada.
 
"Saat ini produksi lada global mengalami suplai yang melebihi permintaan. Untuk itu, negara anggota IPC menggalang kerja sama melakukan promosi untuk meningkatkan konsumsi lada domestiknya demi menyerap kelebihan suplai," ujar Arlinda melalui keterangan tertulisnya, Jumat, 20 September 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Arlinda menjelaskan persoalan rendahnya harga lada perlu diatasi dengan upaya diplomasi oleh IPC, mengingat 73 persen suplai lada dunia berasal dari negara tersebut. Selain itu, upaya diplomasi juga perlu ditunjang kebijakan domestik, khususnya kebijakan pemasaran lada, penguatan kelembagaan, dan hilirisasiproduk berbasis lada.
 
Menurut Direktur Perundingan APEC dan Organisasi Internasional Antonius Yudi Triantoro, penciptaan permintaan (demand creation) yang didukung kesiapan industri hilir dalam negeri adalah kunci. Lada Indonesia baik yang dikonsumsi sendiri maupun diekspor masih banyak berbentuk butir.
 
"Hilirisasi menjadi penting agar ada diversifikasi produk turunan di pasar domestik dan global," ujar Yudi.
 
Yudi melanjutkan salah satu cara menciptakan permintaan yakni dengan mengampanyekan manfaat lada bagi kesehatan yang hingga kini masih belum gencar dilakukan. Secara ilmiah seperti riset Universitas Pertanian Bogor, lada terbukti memiliki dampak positif bagi kesehatan karena mengandung senyawa khas yang bermanfaat mencegah penuaan dini dan anti inflamasi. Informasi manfaat lada bagi kesehatan ini harus terus disosialisasikan kepada masyarakat, sehingga dapat mendorong peningkatan konsumsi.
 
"Kita harus publikasikan bukti ilmiah yang menunjukan manfaat lada bagi kesehatan. Pengembangan riset yang telah dilakukan Universitas Pertanian Bogor dapat dimanfaatkan menjadi skala industri dan komersialisasi oleh pelaku usaha," imbuh Yudi.
 
Sementara itu, Direktur Pengembangan Produk Ekspor Kemendag Ari Satria juga menyatakan siap mendukung program hilirisasi untuk mendongkrak ekspor. Kemendag juga akan membantu pemangku kepentingan dalam mempromosikan, membuat kemasan yang menarik, menciptakan merek (branding), sampai memasarkan produk, dan mematenkan hak kekayaan intelektual (HKI).
 
"Ekspor lada kita pada 2018 yang bernilai USD152,48 juta sangat potensial ditingkatkan, tidak hanya ke negara tujuan utama, tetapi juga ke mitra dagang nontradisional lainnya," kata Ari.
 
Adapun terkait penguatan kelembagaan petani, Wakil Kementerian Pertanian Galih Surti menyatakan setuju bahwa hal tersebut dapat memberi peluang bagi petani bermitra dengan pelaku usaha. Dengan demikian, dapat meningkatkan posisi tawar dan semangat petani membudidayakan lada.
 
"Pemerintah telah memiliki peta jalan pengembangan komoditas lada.Namun, berlimpahnya produksi petani yang belum dapat diserap dengan baik menjadi tantangan baru yang harus diatasi, yaitu dengan memperkuat kelembagaan petani di sektor hulu dan pascapanen," ujar Galih.
 
Potensi lada perlu terus digali dan diusahakan agar hasil produk bernilai tambah dapat dikenal di pasar global. Manfaatnya bisa dirasakan antara lain sebagai sumber penghasilan petani, peluang bisnis, dan produk kesehatan. Saat ini pasar tujuan ekpsor lada Indonesia diantaranya Vietnam (USD56,46 juta), India (USD18,31 juta), Amerika Serikat (USD17,86 juta), Jerman (USD9,20 juta), dan Belanda (USD7,58 juta).
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif