Ilustrasi (Medcom.id/Mohammad Rizal)
Ilustrasi (Medcom.id/Mohammad Rizal)

Kebijakan TBA Dinilai Tidak Turunkan Harga Tiket Pesawat

Ekonomi bisnis maskapai pesawat penerbangan Tarif Tiket Pesawat
Nia Deviyana • 20 Juni 2019 06:30
Jakarta: Pengamat penerbangan sekaligus Anggota Ombudsman Republik Indonesia (RI) Alvin Lie menilai kebijakan menurunkan Tarif Batas Atas (TBA) sebesar 12-16 persen pada maskapai full service tidak membuat harga tiket menjadi turun.
 
"Semakin turun tarif batas atas, justru semakin tidak fleksibel harganya karena margin keuntungan maskapai makin tipis," ujar Alvin, saat mengisi diskusi Pas FM di Hotel Millenium Sirih, Jakarta Pusat, Rabu, 19 Juni 2019.
 
Sebaliknya jika TBA dinaikkan, menurut Alvin, harganya bakal mengikuti mekanisme pasar di mana pada masa peak season memang akan mengalami kenaikan. Namun, ketika memasuki low season, harganya juga akan turun.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ini yang saya tidak paham, kenapa Menteri Perhubungan (Menhub) bukannya merevisi aturan tetapi malah menurunkan TBA," kata dia.
 
Pada kesempatan yang sama, Alvin menuturkan, persoalan harga tiket menjadi satu dari banyaknya masalah di industri penerbangan. Dia menerangkan, harga tiket saat ini masih mengikuti ketentuan Tarif Batas Atas (TBA) yang tidak mengalami penaikan sejak 2014.
 
Sementara Tarif Batas Bawah (TBB) tidak mengalami penaikkan sejak 2016. Di sisi lain, komponen pendukung operasional pesawat semakin mahal lantaran bergantung pada kurs dollar Amerika Serikat.
 
"Nilai tukar USD1 pada 2014 tentu beda dengan 2019. Sebagai contoh, memangnya Anda mau bekerja di 2019 tapi pakai standar gaji 2014?" tukasnya.
 
Ketentuan TBA yang sudah tidak relevan, ditambah biaya operasional yang tinggi, membuat margin keuntungan maskapai makin menipis dari tahun ke tahun. Kemudian ditambah aturan menurunkan TBA belum lama ini memperparah keadaan maskapai.
 
"Pada saat Lebaran kemarin harusnya kesempatan bagi maskapai panen laba, menambal kerugian di low season. Tapi dengan adanya aturan menurunkan TBA, bagaimana mereka bisa mendapatkan laba? Bagaimana mereka menutup kerugian di low season?" imbuhnya.
 
Menyoal harga tiket, Alvin menyarankan, pemerintah mengevaluasi kembali keputusan menaikkan TBA. Salah satunya karena aturan tersebut hanya berlaku pad pesawat jet, yang notabene melayani kota-kota besar.
 
"Yang baling-baling sama sekali tidak disentuh. Padahal pesawat ini paling dibutuhkan masyarakat di kota kecil. Dan pesawat ini, cost per seat per kilometernya jauh lebih mahal dibandingkan pesawat jet," kata dia.
 
Alvin melanjutkan, pemerintah harusnya mampu menyelenggarakan transportasi udara berkeadilan, yang juga menjangkau masyarakat pelosok.
 
"Saya lihat kurang ada keadilan karena yang diurusi pesawat jet saja. Padahal di sisi lain ada daerah yang sangat tergantung dengan udara karena mereka tidak punya akses moda trasportasi lain. Itu yang dinamakan rute perintis. Nah rute ini yang seharusnya disubsidi," pungkasnya.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif