Namun, hal ini juga tampaknya tidak mudah, utamanya sejak masuknya kopi robusta dari Vietnam.
"Sekarang lebih parah. Di samping tren harga internasional turun terus, di dalam negeri masuk kopi robusta Vietnam. Makin sulit lagi karena mau dijual di dalam atau luar negeri harganya sama-sama rendah, terutama kopi robusta," ujar Ketua Dewan Kopi Indonesia Anton Apriyantono saat dihubungi Medcom.id, Jumat, 27 September 2019.
Menyikapi harga kopi internasional yang terus turun, Anton menilai langkah pertama yang harus dilakukan Indonesia adalah meningkatkan konsumsi dalam negeri.
"Secara umum harga kopi memang turun terus, dan sayangnya harga kopi itu memang mengikuti internasional. Itu kenapa kita harus dorong penggunaan dalam negeri, kalau meningkat kita tidak tergantung pada ekspor," papar dia.
Saat ini, lanjut dia, keadaan semakin memprihatinkan karena permintaan ekspor lebih dominan pada green bean atau biji kopi hijau sehingga harganya sangat murah.
"Tetapi memang cukup sulit juga mencari pengimpor yang mau memesan roasted bean atau biji kopi yang sudah dipanggang, karena green bean itu selain murah, juga bisa diberi nilai tambah macam-macam," jelasnya.
Selain meningkatkan konsumsi, Anton juga mendorong kreativitas industri. Misalnya, tidak hanya menjadikan kopi sebagai minuman, tetapi juga mengolahnya sebagai makanan dan kosmetik.
"Dengan nilai tambah harganya tentu jadi lebih tinggi. Dan untuk minuman bisa lebih banyak lagi dibuat variasinya," tuturnya.
Wakil Presiden Jusuf Kalla menuturkan bahwa sejak 1982 hingga saat ini, harga biji kopi dunia telah turun hingga 70 persen. Salah satu penyebab anjloknya harga karena terjadi kelebihan pasokan produksi biji kopi dunia.
Mengutip data International Coffee Organization (ICO), rata-rata harga kopi tertinggi pada Agustus 2019 sebesar USD72,36 dan terendah di level USD69,36.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News