NEWSTICKER
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. FOTO: dok Kemenperin.
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. FOTO: dok Kemenperin.

Industri Pengolahan Kakao Setor Devisa USD1,13 Miliar

Ekonomi kakao kementerian perindustrian
Nia Deviyana • 17 September 2019 16:07
Jakarta: Kementerian Perindustrian menetapkan industri kakao sebagai salah satu andalan dalam peta jalan Making Indonesia 4.0. Sebab, sektor ini juga banyak melibatkan industri kecil dan menengah (IKM).
 
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan pada 2018 telah diekspor 85 persen produk kakao atau sebanyak 328.329 ton, dengan menyumbang devisa hingga USD1,13 miliar. Sedangkan produk kakao olahan yang dipasarkan di dalam negeri sebesar 58.341 ton atau sebanyak 15 persen.
 
"Indonesia merupakan negara pengolah produk kakao olahan ke-3 dunia setelah Belanda dan Pantai Gading," ujar Airlangga melalui keterangan resminya, di Jakarta, Selasa, 17 September 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Saat ini, industri pengolahan kakao, kata Airlangga, telah menghasilkan produk cocoa liquor, cocoa butter, cocoa cake,dan cocoa powder. Sebagai salah satu negara produsen biji kakao, Indonesia telah mempunyai 20 perusahaan industri pengolahan kakao.
 
Ke depan, pengembangan hilirisasi industri pengolahan kakao nasional akan diarahkan untuk menghasilkan bubuk cokelat atau kakao, lemak cokelat atau kakao, makanan dan minuman dari cokelat, suplemen, pangan fungsional berbasis kakao, serta kosmetik dan farmasi.
 
"Kami terus mendorong peningkatkan utilisasinya, seiring juga memacu produktivitas biji kakao di dalam negeri untuk menjaga pasokan bahan bakunya," papar Airlangga.
 
Menurut data International Cocoa Organization (ICCO), Indonesia menempati urutan ke-6 sebagai produsen biji kakao terbesar di dunia setelah Pantai Gading, Ghana, Ekuador, Nigeria, dan Kamerun dengan volume produksi mencapai 220 ribu ton sepanjang 2018.
 
Lebih lanjut, industri pengolahan kakao dinilai masih bakal terus tumbuh dan berkembang, karena produknya telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat saat ini.
 
"Contohnya seperti kopi, bisa juga didorong kafe khusus cokelat. Oleh karena itu harus terus kita dorong sektornya. Sebab, Indonesia punya potensi yang sangat besar," ungkap Airlangga.

Pembebasan PPN Kakao

Pada kesempatan yang sama, Menperin menyampaikan, pihaknya sedang mengusulkan kepada Kementerian Keuangan untuk membebaskan pungutan pajak pertambahan nilai (PPN) importasi biji kakao. Hal ini guna memenuhi kebutuhan bahan baku bagi industri pengolahan kakao sekaligus memacu produktivitas dan daya saingnya.
 
"Kita ingin nol kan PPN kakao, selain kapas dan log kayu. PPN tidak dihapus, tetapi tarifnya nol. Ini diharapkan bisa mendorong daya saing industri, karena di dalam era free trade ini dengan negara-negara ASEAN sudah nol tarifnya," jelasnya.
 
Salah satu upaya yang juga perlu dilakukan adalah kerja sama perdagangan bilateral dengan sejumlah negara potensial, seperti Ghana.
 
"Ini juga akan membantu sektor industri kita, sehingga dari Ghana pun bisa nol juga tarifnya. Kami akan terus koordinasikan dengan Kementerian Perdagangan," imbuhnya.
 
Airlangga optimistis jika dilakukan upaya pemenuhan kebutuhan bahan baku industri, diharapkan ke depannya utilisasi produksi industri pengolahan kakao dapat ditingkatkan sampai dengan 80 persen dengan potensi nilai ekspor menembus USD1,38 miliar.
 
"Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama antara pemerintah, industri dan petani untuk meningkatkan produksi kakao di dalam negeri," ujarnya.
 
Guna menjaga ketersediaan bahan baku, pemerintah bersama stakeholder dapat memfokuskan diri untuk meningkatkan produktivitas budidaya kakao. Sedangkan, di sektor industri, diharapkan dapat menjalin kemitraan dengan petani dalam menjaga kontinuitas pasokan bahan baku biji kakao.
 
"Selain itu, kami memacu pada konsumsi kakao bagi masyarakat Indonesia. Salah satu upayanya adalah melalui edukasi di sekolah dan promosi yang dilaksanakan di dalam maupun luar negeri serta gerakan peringatan Hari Kakao Indonesia," tandasnya.
 

(AHL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif