Direktur Pengadaan Perum Bulog Wahyu menjelaskan, komitmen kontrak yang diteken dengan Thailand dan Vietnam mencapai 1,5 juta ton. "Realisasi sejauh ini sudah masuk sekitar 400 ribu ton, secara bertahap masuk semua bulan April,” ujar dia Wahyu, Senin (28/12/2015).
Dengan impor sebesar itu, Wahyu memperkirakan pasokan beras terjaga sampai April 2016. Begitu juga dengan kestabilan harga hingga periode tersebut.
“Stok cadangan kita 1,2 juta ton, masih cukup untuk 4 bulan ke depan. Konsumsi penugasan Bulog 300 ribu ton per bulan masih aman untuk 4 bulan ke depan,” ujar dia.
Penguatan cadangan beras, jelas Wahyu, juga untuk mengantisipasi kekurangan pasokan akibat pergeseran panen raya. “Maka mesti disiapkan cadangannya, stok akan aman sampai 4 bulan ke depan. Mudah-mudahan tidak ada hal diluar kendali, sehingga kita bisa mengendalikan harga dengan posisi stok yang ada,” ujar dia.
Selain itu, pemerintah telah menginstruksikan Bulog mengkonversi sejumlah beras komersil menjadi beras penugasan (public service obligation/PSO). “Seluruh stok Bulog telah disepakati jadi stok pemerintah, tak membedakan lagi stok komersil dan PSO,” ujar dia.
Tahun 2016, Perum Bulog menargetkan penyerapan yang lebih baik. “Targetnya kami menyerap 4 juta ton pada 2016 sesuai arahan Presiden, dan itu harus tercapai,” ujar dia.
Untuk memenuhi target tersebut, Perum Bulog telah meminta pemerintah menetapkan harga yang lebih fleksibel. Agar pengadaan stok beras Bulog dapat dilakukan sejak awal tahun.
“Kami telah mengusulkan harga yang lebih fleksibel, sehingga kita bisa mulai pengadaan sejak awal 2016. Bukan usulan pengubahan HPP, tapi kebijakan harga yang lebih fleksibel," jelas Wahyu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News