Kawasan Industri. Foto : Istimewa.
Kawasan Industri. Foto : Istimewa.

Biaya Investasi Tinggi, Pemerintah Harus Perbanyak Kawasan Industri Terpadu

Ekonomi kawasan industri investasi asing
Nia Deviyana • 12 September 2019 20:43
Jakarta: Tingginya biaya investasi menjadi salah satu alasan kenapa Indonesia kalah dengan Vietnam dalam menggaet investasi dari Tiongkok.
 
Menurut Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Univesitas Indonesia (UI) Ari Kuncoro, hal ini bisa diatasi dengan memperluas kawasan industri terpadu yang bisa mengakomodir berbagai infrastruktur seperti pelabuhan dan kereta api.
 
Salah satu yang bisa dicontoh, kata Ari, yaitu Kendal Industrial Park yang berada di Jawa Tengah. Kawasan ini merupakan hasil kerja sama dua developer besar di Asia Tenggara, yakni Sembcorp Development Ltd dan PT Jababeka Tbk.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kawasan-kawasan seperti itu harus diperbanyak karena investor tertarik dengan yang model begitu. Minim cost karena dekat pelabuhan, bisa masuk kereta, Upah Minimum Provinsi (UMP) nya juga murah," kata dia saat dihubungi Medcom.id, Kamis, 12 September 2019.
 
Berinvestasi di kawasan industri semacam itu, kata Ari, jauh lebih hemat biaya jika dibandingkan dengan berinvestasi di kawasan Cikampek, Jawa Barat.
 
"Kalau di Cikampek, sudah bahan baku datangnya dari pelabuhan Tanjung Priok, bongkar muat barang lama, belum perjalanan di tol, macet pula, habis di ongkos," kata dia.
 
Presiden Joko Widodo sebelumnya kecewa lantaran peralihan modal dan manufaktur dari Tiongkok mengalir deras ke Vietnam. Hal itu imbas dari kemudahan perizinan dan investasi di negara tersebut.
 
Berdasarkan laporan Bank Dunia, sebanyak 33 perusahaan asal Tiongkok memutuskan keluar dari Amerika Serikat. Dari jumlah itu, 23 di antaranya memilih berinvestasi di Vietnam. Sisanya, kabur ke Malaysia, Kamboja, dan Thailand. Pada 2017, sebanyak 73 perusahaan Jepang berelokasi ke kawasan Asia Tenggara. Sebanyak 43 di antaranya memilih Vietnam, 11 perusahaan ke Thailand, dan Filipina. Sementara Indonesia hanya ketiban 10 perusahaan Jepang.

 

(SAW)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif