Ilustrasi. MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE
Ilustrasi. MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE

Padi Hibrida Disebut Bisa Tingkatkan Produktivitas Beras

Ekonomi beras padi harga beras stok beras
Antara • 09 Oktober 2019 12:03
Jakarta: Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania menyatakan padi hibrida merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas pangan serta menjaga ketersediaan beras di tengah masyarakat.
 
"Padi hibrida bisa menjadi alternatif peningkatan produktivitas beras nasional," kata Galuh Octania, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Rabu, 9 Oktober 2019.
 
Menurut Galuh produktivitas padi hibrida memiliki potensi besar untuk ditingkatkan karena produktivitas musiman rata-rata 7 ton per ha atau lebih tinggi dibandingkan dengan produktivitas padi inbrida yang hanya mencapai 5,19 ton per ha.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun, lanjutnya, luas tanam padi hibrida hanya kurang dari satu persen dari total luas tanam padi di Indonesia dan telah mengalami stagnasi selama beberapa tahun. CIPS merekomendasikan beberapa hal terkait pengembangan padi hibrida, antara lain perlu memasukkan padi hibrida ke dalam prioritas perencanaan pembangunan pertanian.
 
Selama ini, padi hibrida memang belum dimasukkan ke dalam program utama yang terkait dengan perencanaan pembangunan pertanian dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional/RPJMN.
 
"Alasan untuk kurangnya prioritas ini mungkin adalah karena statistik kuantitas produksi beras nasional di Indonesia telah lama dibesar-besarkan. Baru belakangan data ini dikoreksi menggunakan metode kerangka sampel area," paparnya.
 
Ia mengemukakan dengan statistik resmi yang menunjukkan tingkat produksi beras yang mencukupi, pembuat kebijakan tidak terdorong untuk berfokus pada peningkatan produktivitas, yang mengakibatkan kurangnya perhatian terhadap pengembangan padi hibrida.
 
Sebelumnya, Kementerian Pertanian (Kementan) mengoptimalisasi lahan rawa selama musim kemarau panjang untuk menjaga target produksi padi nasional pada 2019 yang mencapai 84 juta ton atau setara 49 juta ton beras.
 
"Lahan rawa memang diharapkan jadi penyangga pangan nasional. Karena di saat daerah lain seperti Pulau Jawa kekeringan, di Kalimantan Selatan misalnya yang memiliki lahan rawa justru bisa terus panen pertaniannya," kata Kepala Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) pada Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementan Hendri Sosiawan.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif