Logo Bank Indonesia di Komplek Kantor Bank Indonesia, Jakarta (MI/ROMMY PUJIANTO)
Logo Bank Indonesia di Komplek Kantor Bank Indonesia, Jakarta (MI/ROMMY PUJIANTO)

Aturan GWM Baru Dinilai Positif bagi Bank Besar-Kecil

Ekonomi perbankan bank indonesia giro wajib minimum
Eko Nordiansyah • 06 Juli 2017 11:11
medcom.id, Jakarta: Bank Indonesia (BI) mulai menerapkan aturan Giro Wajib Minimun (GWM) Primer Averaging atau rata-rata untuk memberi keleluasaan bagi bank dalam mengelola likuiditasnya. Kebijakan ini dinilai tak hanya menguntungkan bagi bank-bank besar, tetapi berdampak positif bagi bank kecil.
 
Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, implementasi GWM primer rata-rata merupakan bagian dari reformulasi kerangka operasional kebijakan moneter BI guna meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan moneter. Apalagi aturan ini juga menjadi best practice yang diterapkan oleh bank sentral di dunia.
 
"Untuk bank besar, implementasi GWM rata-rata membuka peluang untuk gapping penempatan ke tenor yang lebih panjang guna meningkatkan efisiensi pengelolaan likuiditas dan enhance return. GWM rata-rata juga meredam gejolak likuiditas dari ketidakpastian timing dan besaran aliran dana nasabah sehingga dapat mengurangi tekanan volatilitas suku bunga PUAB," ujarnya, kepada Metrotvnews.com, di Jakarta, Kamis 6 Juli 2017.
 
Dirinya menambahkan, bagi bank kecil khususnya dengan likuiditas terbatas maka penerapan GWM rata-rata akan bermanfaat untuk mengurangi temporary liquidity shock dan dimungkinkan untuk menunda transaksi pinjam. Jika memiliki likuiditas berlebih, bank dapat mencukupi kebutuhan likuiditas yang meningkat pada hari lainnya.
 
"Meskipun dampaknya diperkirakan marginal pada tambahan likuiditas bank, namun GWM rata-rata yang utama adalah memberikan fleksibilitas perbankan dalam mengelola likuiditas yang pada akhirnya mendorong efisiensi perbankan," jelas dia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain itu, GWM rata-rata berdampak positif pada pendalaman pasar keuangan karena mendorong perpanjangan tenor di pasar PUAB serta mendorong transaksi repo. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahkan telah meluncurkan Global Master Repurchase Agreement (GMRA) Indonesia sebagai landasan pelaksanaan transaksi repo demi mendorong pendalaman pasar keuangan.
 
Dengan demikian, masih kata Josua, kondisi likuiditas perbankan pun menjadi semakin manageable yang pada akhirnya dapat mengoptimalkan fungsi intermediasi perbankan dalam rangka penyaluran kredit.
 
"Data menunjukkan kondisi likuiditas perbankan cenderung terkendali dengan rasio alat likuid/DPK pada Mei yang mencapai 21,7 persen atau meningkat dari Desember 2016 yang mencapai 21,6 persen," lanjutnya.
 
Hal senada juga disampaikan oleh ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA David Sumual. Dirinya berharap agar suatu saat nanti ada kemungkinan pelonggaran GWM primer karena GWM rata-rata hanya sebatas membantu pengelolaan likuiditas saja.
 
"Diharapkan penerapan GWM rata-rata dapat membantu bank-bank dalam mengelola likuditasnya. Saya perkirakan dengan kondisi makro yang semakin baik, pertumbuhan kredit akan makin baik di semester II. Mungkin bisa dengan porsi GWM-nya diturunkan sedikit untuk release liquidity," pungkasnya.
 
 
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif