Ajakan itu disampaikan Dubes Indonesia untuk Kolombia di Bogota Priyo Iswanto dalam sambutannya pada pembukaan Kongres Nasional ke-45 Penanam Sawit Kolombia di Centro de Convenciones Puerta de Oro, Kota Barranquilla, Provinsi Atlantico, Kolombia, dikutip dari Antara, Minggu 11 Juni 2017.
Ia mengatakan untuk melawan kampanye tersebut tidak ada jalan lain kecuali negara produsen bergabung sembari memperkuat kelembagaan Dewan Negara yang menghimpun dana untuk menjaga stabilitas harga sawit dunia.
baca : RI Ajak ASEAN Lawan Kampanye Hitam Komoditas Kelapa Sawit
Menurut Priyo, negara produsen sawit sudah menerapkan program sustainability atau keberlanjutan industri kelapa sawit. Oleh karenanya, negara penghasil kelapa sawit perlu bersatu melawan kampanye negatif terhadap minyak kelapa sawit yang tidak berlandaskan pada fakta yang sesungguhnya.
"Resolusi Parlemen Uni Eropa terkait Kelapa Sawit dan Deforestasi merupakan kebijakan perdagangan yang bertujuan untuk melindungi kepentingan industri minyak nabati mereka sendiri. Karena itu saya mengajak negara-negara penghasil sawit, termasuk Kolombia, untuk bersama-sama memerangi kebijakan tersebut," kata Priyo Iswanto.
Ia diundang pada Kongres Nasional itu sebagai tamu kehormatan mewakili negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia.
"Kolombia ingin belajar banyak dari Indonesia sebagai negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia, karenanya berkepentingan juga melibatkan Indonesia sebagai negara produsen," jelasnya.
Pada kesempatan itu ia juga mengundang Kolombia untuk bergabung dalam Dewan Negara, yakni negara-negara produsen sawit menghimpun dananya guna menjaga kestabilan harga minyak sawit dunia.
"Jika kita cukup dana, dapat dijadikan semacam buffer stocks, yakni dana cadangan, guna mengampu harga sawit saat turun," jelas dia.
Merespon Positif
Kolombia merespons positif tawaran tersebut dan bahkan akan banyak belajar dengan Indonesia khususnya soal penanaman sawit yang menjadi basis bagian dari pertumbuhan ekonomi nasional.
"Kolombia tertarik ingin menjadi anggota dewan negara-negara penghasil minyak sawit dunia," demikian disampaikan Presiden Eksekutif Asosiasi Penanam Sawit Kolombia Jens Mesa Dishington.
Apresiasi positif terhadap kebijakan Indonesia di bidang kelapa sawit bukan hanya dari pihak Kolombia, tetapi juga datang dari tamu undangan lain, salah satunya James Fry (Oxford University) CEO LMC International yang bermarkas di Inggris.
Ia mengatakan pembentukan dana sawit di Indonesia untuk menjaga stabilitas harga minyak kelapa sawit dunia serta daya saing minyak kelapa sawit dibanding minyak nabati lain merupakan suatu terobosan baru di industri kelapa sawit dunia yang patut diapresiasi oleh seluruh pelaku industri kelapa sawit dunia.
"Pemberlakuan pajak ekspor kelapa sawit Indonesia oleh Pemerintah Indonesia membentuk dana sawit merupakan suatu kebijakan pintar dan saya memuji kebijakan itu," kata James Fry.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News