"Kita lihat bahwa kebijakan industri ke depan ini harus selaras. Jadi, ada hal yang harus kita sesuaikan dengan perkembangan teknologi," kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Selasa 2 Mei 2017.
Airlangga menyampaikan, revolusi Industri 4.0 merupakan satu hal yang tidak dapat dihindarkan. Bahkan, bisa menjadi peluang baru sehingga Indonesia perlu mempersiapkan diri. "Jadi, kita perlu menginformasikan kepada para pemangku kepentingan bahwa industri 4.0 ini bukan hanya di depan mata tapi sudah berjalan," tukas Airlangga.
Airlangga menilai beberapa industri yang ada di Indonesia sudah siap menjalankan Industri 4.0 dalam pengoperasiannya, seperti industri semen, petrokimia, otomotif dan makanan minuman. Menurutnya, industri otomotif adalah salah satu industri yang sudah menjalankan praktek Industri 4.0, karena melibatkan teknologi dan internet dalam produksi.
"Kalau industri otomotif kan sudah menggunakan robotik dan mereka juga sudah menggunakan infrastruktur internet of think untuk pengoperasian," ungkap Airlangga.
Ia memaparkan, Industri 4.0 tentu akan meningkatkan produktivitas, meningkatkan kesempatan kerja, serta membuka pasar sampai ke luar negeri. "Dengan melihat kondisi industri manufaktur dan perkembangan dunia, diharapkan seluruh peserta memahami dan bersiap menghadapi era industri baru yaitu 4.0," pungkas Airlangga.
Industrial Revolution 4.0 dicetuskan pertama kali pada 2011 oleh Jerman, yang kemudian menjadi tema utama pada pertemuan World Economic Forum 2016 di Davos, Swiss.
Secara garis besar, Industri 4.0 adalah mengintergrasikan dunia online dengan lini produksi di industri, di mana semua proses produksi berjalan dengan internet sebagai penopang utama.
Beberapa negara yang telah memiliki program-program untuk mendukung industrinya menuju Industri 4.0 seperti Jerman, Inggris, Amerika Serikat, Tiongkok, India, Jepang, Korea, dan Vietnam.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News