Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh Barat Muhammad Ikbal mengatakan, kondisi saat ini sudah tidak ada lagi usaha pondok petani garam di daerah tersebut setelah kawasan pesisir pantai di ratakan gelombang tsunami 2004.
"Dulu di daerah kita ada petani garam. Ada pondok-pondok usaha pembuatan garam. Sekarang tidak ada lagi. Kami akan melakukan kajian kembali, apakah nanti dibentuk dalam sistem kelompok atau bagaimana, yang jelas lokasinnya dulu," tuturnya, seperti dikutip dari Antara, Selasa 1 Agustus 2017.
Ikbal menyatakan, kondisi saat ini meskipun Kabupaten Aceh Barat berada di garis pantai pesisir barat Aceh berhadapan langsung dengan Samudera Hindia-Indonesia, namun ketersediaan tambak sebagai tempat budidaya pengolahan garam sudah terbatas.
Pengolahan air laut menjadi garam membutuhkan kajian terhadap kadar garam pada air laut, kemudian posisi tempat pengolahan harus bisa langsung mengakses air laut, sementara kondisi laut kawasan itu sangat terbuka dari hempasan gelombang tinggi.
"Di dinas itu ada program pemberdayaan petani garam, bisa kita lakukan. Cuma tambaknya terbatas, karena dia langsung mengakses pada air laut, harus mengukur kadar garamnya, kalau kadar garamnya tidak tercapai tidak bisa dibuat," sebutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News