Ilustrasi sapi -- ANTARA FOTO/Saiful
Ilustrasi sapi -- ANTARA FOTO/Saiful

Babat Sapi Impor, Menteri Amran Serukan Program 'Gertak Birahi'

Suci Sedya Utami • 21 Januari 2015 18:29
medcom.id, Jakarta: Ketergantungan Indonesia terhadap barang pangan impor memang tak terelakkan. Salah satu yang diimpor yakni daging sapi. Padahal, ternak sapi di Tanah Air bisa dikatakan membeludak.
 
Untuk mengubah kebutuhan impor Indonesia akan daging, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyampaikan Kementerian Pertanian akan menyerukan program Gertak Birahi (penyerentakan birahi). Program ini dilakukan sebagai upaya mendapatkan sekelompok ternak yang mengalami birahi dalam waktu yang bersamaan sehingga memudahkan dalam proses perkawinan yang dilakukan dengan teknik inseminasi buatan.
 
"Kami harapkan 2015 ini bisa dilaksanakan program Gertak Birahi, inseminasi buatan dua juta ekor sapi," kata Amran, dalam Rapat Kerja bersama Badan Anggaran DPR RI, di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (21/1/2015).

Menurut pria berdarah Makassar ini, masalah daging sebenarnya Indonesia sudah mempunyai potensi. Namun demikian menurut dia, ada juga hal yang salah yang dilakukan di masa lalu. Amran bilang, Kementerian Pertanian (Kementan) saat ini sudah mengekspor semen beku (sperma sapi beku) ke Amerika Serikat, Rusia,  dan Jepang. “Setelah jadi sapi,  kita impor lagi. Mungkin ini kekeliruan kita bersama,” kata dia.
 
Oleh karena itu, Amran menegaskan ke depan Kementan akan meningkatkan produktivitas sapi di dalam negeri dengan Gertak Birahi. Hanya saja, lanjut dia, ada syarat yang perlu diperhatikan dalam program ini adalah kondisi sapi betina. Dia menjelaskan, sapi betina yang diinseminasi buatan tidak boleh yang belum pernah melahirkan.
 
"Karena  kalau masih perawan, tidak bisa. Inseminasi buatan pada sapi betina perawan bisa membuat induknya mati. Ini kejadian di Kalimantan Selatan, 40 persen mati karena sapinya belum pernah melahirkan," terangnya.
 
Kalau pun sudah pernah, kata Amran, sebaiknya dipilih sapi betina yang sudah pernah melahirkan lebih dari dua kali. Sebab, inseminasi buatan akan menghasilkan sapi berukuran besar, seperti jenis Brahma dan Limosin. "Jadi harus melahirkan dua kali, kalau satu kali masih kurang aman. Tingkat kematiannya bisa sampai 10 persen," ujar dia.
 
Amran menambahkan, untuk program ini dibutuhkan impor sapi indukan 30.000 ekor, dan sapi bibit 1.200 ekor. Dengan tingkat keberhasilan 20 persen, diharapkan dalam setahun mendatang bisa diproduksi 1,6 juta ekor sapi.
 
"Dalam 3-4 tahun impor (sapi) bisa diselesaikan (dikurangi)," pungkas Amran.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(AHL)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan