Kementan: Mayoritas Stok Pangan Aman hingga Akhir 2018
Ilustrasi: Pedagang sembako (Foto:MI/Abdus Syukur)
Jakarta: Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan stok pangan aman hingga akhir 2018. Hanya beberapa komoditas yang mengalami keterbatasan.

"Untuk beberapa komoditas penting, menjelang Natal 2018 dan tahun baru 2019, pasokan kita aman," kata Kepala BKP Kementan Agung Hendriadi pada konferensi pers di Ruang Rapat Nusantara 2 Gedung E, Kementan, Jakarta, Rabu, 5 Desember 2018.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), perkiraan neraca kumulatif stok beras pada akhir 2018 mencapai 3,827 juta ton. Sejauh ini tak ada tanda akan terjadi kekurangan.

"Didukung juga dengan stok yang ada di Bulog sebesar 2,3 juta ton. Ini merupakan modal besar bagi kita. Tidak hanya untuk mengatasi pada akhir tahun, tapi juga tahun berikutnya," kata Agung.

Beberapa stok yang dinyatakan aman ialah minyak goreng. Perkiraan ketersediaan produksi selama 2018 mencapai 29,2 juta ton. Sedangkan, perkiraan kebutuhan hanya 8,5 juta ton.

Untuk gula pasir juga demikian. Perkiraan ketersediaan produksi selama 2018 mencapai 2,25 juta ton. "Kita surplus sampai akhir tahun mencapai 344 ribu ton. Ini juga cukup terkendali sampai hari ini," ujar Agung.

Kemudian, bawang merah. Perkiraan ketersediaan produksi kotor tahun 2018 sebanyak 1,7 ton. Sedangkan, ketersediaan produksi bersih sebanyak 1,4 juta ton. "Kebutuhan 1,2 juta ton. Jadi sampai akhir tahun aman," ucapnya.

Sementara, produksi bawang putih belum bisa memenuhi kebutuhan nasional. Perkiraan produksi tahun 2018 hanya 40 ribu ton. Sedangkan, kebutuhan mencapai 440 ribu ton.

"Produksi kita baru 10 persen dari kebutuhan. Jadi, kita tetap impor 400 ribu ton. Programnya memang belum nendang, mudah-mudahan bisa diperbaiki tahun depan," kata Agung.

Mengenai stok cabai besar, terpantau aman. Produksi hingga akhir 2018 sebesar 1,297 juta ton. Sedangkan, konsumsi 1,207 juta ton. "Masih ada surplus 90 ton. Kalau cabai besar tidak bisa banyak-banyak surplusnya. Kalau banyak, nanti busuk. Jadi kita memantau produksi sesuai kebutuhan," tutur Agung.

Kemudian, produksi daging sapi lokal, belum bisa memenuhi kebutuhan. Produksi daging sapi tahun 2018 sebanyak 429 ribu ton. Sedangkan, kebutuhan mencapai 663 ribu ton.

"Akan ada impor daging sapi kira-kira 200 ribu ton. Khusus November dan Desember 2018, ada minus sekitar 20 ribu ton. Jadi sebagai langkah antisipasi, kita mengimpor daging sapi," ucap Agung.

Untuk daging ayam , mengalami surplus. Tercatat, perkiraan produksi tahun 2018 mencapai 3,382 juta ton. Sedangkan, konsumsi nasional 3,048 juta ton. "Masih surplus 335 ribu ton. Ini anomali kenaikan harganya, tapi saya yakin tidak lama," ucapnya.

Terakhir, kondisi telur ayam juga terpantau aman. Perkiraan produksi pada 2018 mencapai 2,56 juta ton. Sedangkan, konsumsi  hanya 1,7 juta ton. "Sampai akhir tahun, aman. Telur juga sudah kita ekspor ke beberapa negara. Salah satunya, Singapura," ujar Agung.



(ROS)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id