Direktur Hubungan Eksternal dan Fiskal PT HM Sampoerna Tbk Elvira Lianita. Medcom/Ilham Wibowo.
Direktur Hubungan Eksternal dan Fiskal PT HM Sampoerna Tbk Elvira Lianita. Medcom/Ilham Wibowo.

Sampoerna Bina Pelaku UKM Tembus Pasar Ekspor

Ekonomi sampoerna umkm
Ilham wibowo • 18 Oktober 2018 18:23
Jakarta: Direktur Hubungan Eksternal dan Fiskal PT HM Sampoerna Tbk Elvira Lianita memastikan pihaknya bakal fokus menjalankan program mengawal pembinaan pelaku usaha kecil menengah (UKM). Hasil produk yang berkualitas dan menembus pasar ekspor menjadi tujuan pengembangan ekonomi nasional.
 
"Pendampingan itu jauh lebih powerfull, semangat dan kemampuan itu juga lebih penting. Kami punya motode pengolahan yang benar dan menjadi konsultan untuk pengembangan UKM berkelanjutan," ujar Elvira dalam forum diskusi di Gedung Djakarta Theater, Jakarta, Kamis, 18 Oktober 2018.
 
Sejak 2007 Sampoerna memberikan pelatihan kewirausahaan kepada sekitar 40 ribu orang melalui program Pusat Pelatihan Kewirausahaan (PPK). Fasilitas pelatihan terpadu yang berada di Pasuruan, Jawa Timur ini telah menerapkan 90 riset terapan yang teruji di bidang pertanian terpadu.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami benahi produk misalnya bagaimana agar bisa tahan lama, kemudian label dibenahi, kemasan dan sebagainya. Kami lakukan juga sinergi dengan Pemda agar bisa masuk ke pasar modern. Produk binaan kami bahkan ada yang masuk ekspor," ungkapnya.
 
Kerja sama dengan pemerintah daerah menjadi penting untuk pengembangan UKM berkelanjutan. Pelaku usaha yang baru mengeluarkan produk perlu mendapat dukungan terutama distribusi dan pemasaran.
 
"Seperti di Surabaya, Bu Risma (Wali Kota Surabaya) sangat peduli UKM dengan memberikan akses, mencarikan channel sehingga bisa tumbuh kembang. Peran pemerintah sangat strategis, dari sisi regulasi dan integrasikan dengan pihak lain, semua harus sinergi," kata dia.
 
Wirausaha binaan PPK Sampoerna, Karyani, mengatakan produk minuman herbalnya saat ini kian diminati konsumen. Produk UKM dengan merk jual Kesiman Jaya itu tela telah memiliki 17 varian.
 
"Saya mulai dengan modal Rp50 ribu dan keinginan kuat untuk mengolah hasil bumi yang sangat bermanfaat. Usaha ini akhirnya semakin berkembang ketika saya mendapatkan pelatihan menyeluruh untuk lebih memahami pasar, pentingnya pengemasan, hingga penggunaan alat agar lebih efisien," ujarnya.
 
Produk minuman kesehatan ini kini tak hanya diminati pasar nasional. Karyani mengaku kini telah mengandalkan 39 pegawainya untuk memenuhi kebutuhan ekspor ke Korea Selatan.
 
"Dulu saya produksi minuman herbal main 1 kilo sehari, sekarang sudah 100 kilo dan sudah ke toko ritel. Ekspor juga sekarang sudah banyak, per tahun hampir dua kuintal ke Korea Selatan," tandasnya.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif