Kenaikan Suku Bunga Acuan tak Ganggu Bisnis Motor Honda

Ilham wibowo 21 November 2018 21:09 WIB
honda
Kenaikan Suku Bunga Acuan tak Ganggu Bisnis Motor Honda
Illustrasi. Dok : Astra Honda Motor.
Jakarta: PT Astra Honda Motor (AHM) menyakini keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan BI-7 Day Reverse Depo Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi enam persen tidak membawa dampak negatif. Penjualan produk ditargetkan tetep bertumbuh.

"Level sekarang dengan perusahaan pembiayaan masih bisa dicermati, cicilan yang harus dibayar tidak pengaruh banyak untuk sekarang," kata Direktur Keuangan AHM Erik Sadikin dalam sebuah diskusi di Go Work FX Sudirman, Jakarta, Rabu, 21 November 2018.

Erik mengatakan bahwa daya beli masyarakat saat ini masih berapa pada posisi aman. Kondisi berbeda pada 2008, kata dia, pengaruh inflasi hingga 10 persen sangat berpengaruh pada penjualan sepeda motor.

“Inflasi tinggi pasti BI menaikkan suku bunga, ujungnya pasti berpengaruh pada cicilan bulanan sehingga menunda pembelian mereka,” papar Erik.

Hingga kuartal III-2018 penjualan produk otomotif AHM mencatatkan angka positif yakni meningkat delapan persen dari 3,5 juta unit menjadi 3,9 juta unit dibanding tahun sebelumnya. Target AHM hingga akhir tahun 2018 pun tetap sesuai proyeksi pertumbuhan yang dipatok pada angka 4,5 juta hingga 4,7 juta unit.

"Kami ingin tetap menjaga harga produk yang bisa diterima masyarakat," kata Erik.

Level inflasi yang stabil dengan membaiknya harga crude palm oil (CPO) maupun batu bara nasional turut mendorong bisnis produk AHM. Kondisi politik serta daya beli masyarakat juga masih tercatat positif dengan stabilnya sejumlah harga komoditas pangan.

"Musim panen yang cukup baik tahun ini membuat pasar motor terdapat recovery dari tahun sebelumnya," ungkapnya.

Meski penjualan cenderung menurun dibanding tiga tahun sebelumya, AHM tetap merajai pasar sepeda motor di Tanah Air. Nilai tertinggi penjualan pun kini tak hanya terfokus di wilayah Pulau Jawa.

"Sumatera 15 persen, Kalimantan 30 persen, Sulawesi dan Papua juga di atas 10 persen. Sementara untuk Pulau Jawa naiknya hanya sekitar lima persen," tandasnya.



(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id