BI: Kenaikan Suku Bunga Acuan Ampuh Topang Rupiah
Logo Bank Indonesia di Komplek Kantor Bank Indonesia, Jakarta (MI/ROMMY PUJIANTO)
Jakarta: Kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia yang cukup mengejutkan pada 15 November 2018 masih ampuh meningkatkan daya tarik pasar keuangan domestik, sehingga turut menopang keberlanjutan penguatan rupiah hingga akhir pekan ini.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah mengatakan investor global masih mengapresiasi sikap bank sentral yang menaikkan 7-Day Reverse Repo Rate menjadi enam persen. Total dalam kurun enam bulan saja, BI sudah menaikkan suku bunga acuan hingga 175 basis poin, atau 1,75 persen.

Alhasil imbal hasil atau bunga instrumen di pasar keuangan seperti obligasi pemerintah masih atraktif. Selama November 2018, arus modal asing yang masuk ke pasar sekunder SBN sebesar Rp27,5 triliun. Artinya sejak awal September sampai dengan akhir November, modal asing yang masuk secara total mencapai Rp47,4 triiun.

"(Penguatan rupiah) karena investor global tetap memiliki pandangan positif terhadap kebijakan peningkatan suku bunga oleh Bank Indonesia, dan tidak adanya pasokan baru Surat Berharga Negara sampai akhir tahun dari pemerintah," kata Nanang, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Sabtu, 24 November 2018.

Dari faktor eksternal, penguatan nilai tukar mata uang rupiah terbantu dari dinamika pasar keuangan global terutama terkait ekspetasi terhadap kebijakan Federal Reserve, yang diperkirakan mulai melunak dalam menaikkan suku bunga acuannya.

"Dari sisi global, pasar saham merespon positif sinyal kebijakan moneter yang lebih lunak dari beberapa pejabat the Fed, di mana sebelumnya mengkhawatirkan langkah the Fed yang terlalu cepat menaikkan suku bunga sehingga memicu pelepasan saham," pungkas Nanang.



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id