Kepala Batan Djarot Wisnubroto menyebut tujuan utama pembangunan Iradiator untuk meningkatkan penguasaan teknologi dari tahapan desain konstruksi dan pengoperasian. Selain itu, Iradiator dapat digunakan untuk mendemonstrasikan kepada stakeholder dan masyarakat bahwa teknologi proses pengawetan dan sterilisasi menggunakan radiasi aman untuk makanan, obat-obatan, bahkan herbal, kosmetika, dan alat kesehatan.
"Ketika panen raya produknya melimpah, tetapi dihantui dengan realita bahwa produk panennya akan cepat membusuk dan tidak bisa disimpan terlalu lama. Akibatnya harga jual produknya akan jatuh dan menjadi limbah yang tidak ada nilai ekonomisnya," ujar Djarot dalam siaran persnya, Rabu (30/3/2016).
Dirinya menambahkan, teknologi pengawetan dan sterilisasi radiasi gamma memiliki tujuh keunggulan. Pertama, dapat membunuh bakteri, kuman, telur, larva, serta serangga hingga lapisan dalam dari produk yang diiradiasi. Kedua, tidak memerlukan bahan pengawet sehingga tidak menimbulkan residu bahan kimia beracun.
"Ketiga, produk yang diiridiasi aman untuk dikonsumsi. Keempat, dilakukan pada proses dingin sehingga tidak merusak atau mengubah nutrisi pada makanan yang diiradiasi dan kemasannya. Kelima, proses iradiasi dilakukan pada produk yang sudah dikemas siap kirim sehingga akan terhindarkan dari terjadinya proses rekontaminasi," jelasnya.
Selanjutnya, untuk keuntungan yang keenam, satu fasilitas iradiator dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, antara lain menghambat pertunasan, pitosanitari, karantina buah, mengurangi kandungan bakteri patogen, kapang, jamur dan mikroorganisme lainnya, memperpanjang daya simpan, dan disinfestasi serangga. Lalu, upaya ini terbukti aman digunakan selama 50 tahun dan sudah diizinkan penggunaannya dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 701/Menkes/Per/VII/2009.
"Ke depan, Iradiator Gamma Serbaguna diharapkan akan menjadi model atau master dari pembangunan Iradiator lain di seluruh Indonesia," ungkapnya.
Dalam penjelasannya, Iradiator Gamma yang bersifat multi fungsi dengan kapasitas maksimum dua mega currie (2 MCi) tersebut akan dibangun di Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan. Groundbreaking pembangunannya dilakukan oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) M. Nasir, Djarot, dan Wali Kota Tangerang Selatan pada Selasa 29 Maret 2016.
Pembangunannya diperkirakan akan selesai pada akhir 2017. Dengan kapasitas dua MCi, Iradiator akan mampu melayani proses iradiasi hingga 123 meter kubik per hari.
"Dalam pembangunannya, Batan memiliki kontribusi tingkat kandungan komponen lokal sebesar 78 persen," katanya seraya mengatakan MoU dengan Izotop-Hongaria telah ditandatangani pada 25 September 2014 di Wina, Austria.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News