Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI Ryan Kiryanto mengatakan perbankan nasional pernah bertahan dalam menghadapi krisis pada 1998 lalu. Saat itu bukan hanya kebijakan suku bunga saja tetapi kondisi ekonomi yang tidak baik juga bisa ditahan dengan baik oleh bank-bank di Indonesia.
"Pada 1998 tak hanya terganggu akibat bunga saja, tetapi kondisi ekonomi saat itu juga jauh lebih buruk dari sekarang tapi kita tetap survive. Kita pernah mengalami krisis besar dan kecil, dan kita terbukti memiliki daya tahan yang baik terhadap krisis," kata dia dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, 28 Agustus 2018.
Kondisi fundamental ekonomi yang lebih baik tahun ini, diyakininya bank akan mampu bertahan. Tak hanya itu, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) juga diyakini akan menjaga ekonomi Indonesia tetap baik di tengah gejolak global yang mengancam perekonomian.
Sampai dengan Juni 2018, pertumbuhan kredit mencapai 11,10 persen dengan rasio kredit bermasalah (NPL) hanya 2,67 persen. Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh 6,99 persen pada periode yang sama, serta dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (CAR) di level 21,97 persen.
Sayangnya tren kenaikan suku bunga ini bisa menganggu kinerja sektor riil. Menurut Executive Director & CEO IPMI International Business School Jimmy Gani, tingginya suku bunga kredit perbankan yang mencapai dua digit mendongkrak biaya produksi perusahaan.
"Sehingga akan menurunkan daya saing produk lokal di perdagangan internasional. Tingginya suku bunga kredit membuat biaya pendanaan usaha juga meningkat. Sementara, suku bunga kredit yang ada saat ini sudah relatif tinggi dibandingkan dengan negara-negara lainnya," kata Jimmy.
Hal ini yang menurut Ryan memang perlu disiasati oleh perbankan agar bunga kredit tak ikut naik. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah melakukan efisiensi dengan menekan biaya dana, misalnya mendorong digitalisasi di sisi layanan.
"Dengan cerdas bank perlu menyiasati dengan melakukan tindakan menjaga agar suku bunga tidak naik. Ada potensi ganguan kemampuan membayar debitur, ancaman NPL naik. Untuk itu bank tidak usah menaikan suku bunga dengan kompensasi efisiensi, dan digitalisasi perbankan itu sangat mungkin dilakukan," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News