Ekonom INDEF Faisal Basri (MI/ROMMY PUJIANTO)
Ekonom INDEF Faisal Basri (MI/ROMMY PUJIANTO)

Penyelesaian Sawit Disarankan Lewat Diplomasi Satu Pintu

Ekonomi minyak sawit kelapa sawit cpo
29 Maret 2019 08:47
Jakarta: Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Faisal Basri menyarankan agar masalah terkait sawit bisa diselesaikan lewat diplomasi satu pintu melalui Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.
 
"Serahkan ke Bu Menlu karena ini sudah negosiasi antarnegara. Karena kalau ada apa-apa ini bukan urusan sekadar sawit tapi urusan diplomasi secara keseluruhan," kata Faisal, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Jumat, 29 Maret 2019.
 
Hal itu diungkapkan Faisal karena menurut dia karakter Menlu Retno yang sejuk, santun dan terukur diharapkan dapat memberikan implikasi pada saat negosiasi. Ia menambahkan, diplomasi juga seharusnya dilakukan melalui satu pintu. Dengan demikian, tokoh lain seharusnya tidak ikut campur dengan ikut menimpali sehingga membuat masalah jadi rumit.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kalau diplomasi satu pintu, jangan Menko Darmin ngomong, Menko Luhut ngomong, jadi pusing. Ini sudah ranahnya diplomasi, di mana masalah satu dengan masalah lain terkait, hubungannya harus baik," katanya.
 
Upaya diplomasi, menurut Faisal, merupakan langkah yang perlu dilakukan ketimbang melayangkan ancaman menghentikan impor dari benua biru. Pasalnya, Indonesia akan mengalami kerugian jika tak lagi mengimpor sejumlah kebutuhan dari Eropa.
 
"Menurut saya harus diplomasi, seolah ini perang Eropa dengan negara, padahal kita relatif dirugikan," ujarnya.
 
Di sisi lain, Faisal mengatakan Indonesia ada baiknya bercermin atas apa yang dituduhkan Uni Eropa untuk memboikot produk sawit nasional. Meski demikian, tetap diharapkan Uni Eropa mencabut larangan tersebut dan kembali menjalin hubungan yang baik dengan Indonesia terkait dengan Sawit.
 
"Kenapa Uni Eropa memboikot sawit kita? Karena banyak lahan tumpang tindih sawit, termasuk ribuan hektare yang seharusnya hutan. Kita lihat tuduhan-tuduhan Eropa itu benar tidak? Kalau tuduhan itu tidak benar, baru bawa ke WTO. Apa gunanya mengancam?" katanya.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif