Ilustrasi (MI/ANGGA YUNIAR)
Ilustrasi (MI/ANGGA YUNIAR)

Asosiasi Jelaskan Alasan Pengusaha Masih Gunakan Gula Impor

Ekonomi gula swasembada gula lelang gula rafinasi
22 Januari 2019 14:04
Jakarta: Ketua Asosiasi Industri Kecil dan Menengah Agro Suyono mengatakan pengusaha makanan dan minuman kelas kecil dan menengah masih membutuhkan gula impor bagi keberlangsugan usaha mereka karena disebabkan tiga alasan utama.
 
"Yang pertama gula rafinasi itu tidak mengandung molasis, yaitu sampah mikro, bakteri dan kuman, yang masih menempel di gula. Ketika ada molasis, makanan kami akan cepat kedaluwarsa," ujar Suyono, yang juga pengusaha dodol, di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Selasa, 22 Januari 2019.
 
Suyono menjelaskan jika menggunakan gula buatan dalam negeri, saat makanan diekspor, misalnya dodol ke Timur Tengah, makanan semisal dodol akan berjamur dan kedaluwarsa karena ada bakteri itu. Pasalnya, perjalanan ke Abu Dhabi bisa mencapai 20 hari. Kondisi panas dalam kontainer membuat bakteri yang membusukkan makanan lebih cepat berkembang.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Alasan kedua karena gula rafinasi selalu tersedia dari Januari sampai Desember. Sedangkan jika menggunakan gula dalam negeri, mesti menunggu musim panen. Pengusaha juga mengeluhkan masalah harga.
 
Suyono menyebutkan harga gula buatan dalam negeri bisa lebih mahal hingga Rp2.000 per kilogram dibandingkan dengan gula rafinasi. Hal itu yang membuat pengusaha lebih memilih gula rafinasi karena lebih murah. Pilihan menggunakan gula rafinasi impor, dia tegaskan, tidak serta-merta menunjukkan para pengusaha anti produk dalam negeri.
 
Menurut Suyono pengusaha siap membeli gula dalam negeri jika kualitasnya mampu memenuhi yang dibutuhkan. "Kami siap beli gula dalam negeri, nasionalisme saya tidak perlu dipertanyakan lagi. Saya ini anak petani asli Ciamis, saya juga ingin petani tebu Indonesia sejahtera," jelasnya.
 
Peneliti muda Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman mengungkapkan menekan tingginya angka impor gula bukan pekerjaan yang mudah. Ini mengingat konsumsi dalam negeri sangat tinggi. Pemangkasan impor gula hanya dapat dilakukan apabila produksi gula dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan nasional dengan kualitas baik.
 
Ia berpendapat produksi gula dalam negeri mampu memenuhi atau setidaknya mendekati angka kebutuhan jika kebijakan impor gula dipastikan dapat ditekan. Namun untuk saat ini, bila impor gula terus ditekan, imbasnya akan membuat harga gula di pasaran melambung.
 
"Pada akhirnya, konsumen dan unit usaha UMKM yang menggunakan gula sebagai bahan produksinya akan menanggung kerugian," pungkasnya.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi