Presiden Joko Widodo. MI/Ramdani
Presiden Joko Widodo. MI/Ramdani

Presiden Berikan Catatan Soal Defisit Neraca Perdagangan

Ekonomi neraca perdagangan indonesia
Damar Iradat • 21 Mei 2019 02:08
Belu: Presiden Joko Widodo buka suara soal defisit neraca dagang April 2019 yang mengalami defisit hingga USD2,50 miliar. Nilai minus tersebut terdalam sepanjang 2019.
 
"Yang namanya defisit transaksi berjalan, defisit neraca perdagangan itu memang persoalan besar kita," kata Jokowi usai meresmikan Bendungan Rotiklot di Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin, 20 Mei 2019.
 
Menurutnya, ia sudah selalu mengingatkan kepada jajaran menterinya soal defisit neraca perdagangan. Mantan Wali Kota Solo itu juga menyampaikan beberapa rumus mengatasi tekor neraca dagang nasional.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Rumus itu yakni dengan meningkatkan ekspor ke luar negeri. Di sisi lain, kata dia, barang subtitusi impor yang diproduksi dalam negeri pun harus ditingkatkan.
 
"Kemudian (kalau) barang subtitusi impornya tidak diproduksi sendiri di dalam negeri, mau sampai kapan nggak akan rampung," ujar Jokowi.
 
Selain itu, menurut dia, untuk menyelesaikan masalah defisit neraca perdagangan adalah dengan industrilisasi dan tidak mengekspor komoditas mentah. Pemerintah juga telah berupaya mengurangi impor minyak untuk bahan bakar dengan memproduksi serta mengolah avtur dan solar di dalam negeri.
 
Upaya itu pun membuahkan hasil. Ia mengklaim, produksi solar dan avtur membuat Indonesia tidak lagi memgimpor minyak terhitung mulai Mei 2019.
 
"Kalau semua kok impar impor, sampai kapanpun defisit pasti nggak usah diceritain. Yang paling penting itu bagaimana menyelesaikan persoalan itu," ungkap dia.
 
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan jangka neraca perdagangan pada April 2019 mengalami defisit sebesar USD2,50 miliar. Nilai minus tersebut terdalam sepanjang 2019.
 
Angka defisit neraca perdagangan ini dipengaruhi oleh kinerja ekspor yang tercatat menurun sebesar 10,80 persen dibanding Maret 2019 menjadi USD12,60 miliar. Sementara kinerja impor pada periode yang sama mengalami kenaikan 12,25 persen menjadi USD15,10 miliar.
 
Selisih ekspor dan impor pada April 2019 mengalami minus USD2,5 miliar. Defisit terdalam terjadi pada sektor migas terutama hasil minyak yang mencatatkan minus USD1,32 miliar disusul minyak mentah minus sebanyak USD288 juta.
 
Secara kumulatif selama Januari-April 2019 angka defisit mencapai USD2,56 miliar. Angka minus tersebut tercatat merupakan yang terdalam dibanding pada periode yang sama empat tahun sebelumnya.
 

(AGA)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif